Oleh: Dr. Ganif Djuwadi
– Dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
– Alumni TOT Pelatih Bela Negara Kemenhan.
– Alumni Tot Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Lemhannas.
Di era global yang penuh dengan dinamika, ancaman terhadap bangsa bukan saja berbentuk agresi militer, tetapi juga infiltrasi budaya, degradasi moral, peredaran narkoba, radikalisme, korupsi, serta melemahnya karakter generasi muda.
Dalam konteks inilah, Poltekkes Kemenkes Malang menunjukkan dirinya sebagai institusi pendidikan vokasi kesehatan yang tidak hanya mencetak tenaga kesehatan kompeten, melainkan juga patriot yang berkarakter.
Salah satu motor penggerak utamanya adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, solidaritas, dan nasionalisme.
Kiprah UKM Poltekkes Malang dalam Bela Negara
UKM di Polkesma bukan sekadar wadah minat dan bakat. UKM adalah arena tumbuhnya rasa tanggung jawab, disiplin, integritas, hingga kepedulian sosial—nilai yang menjadi inti dari Bela Negara. Dari keberagaman UKM inilah tecermin wajah Indonesia yang plural, dinamis, dan penuh semangat persatuan.
Dalam hal ini, UKM Kesatuan Dakwah for Islamic Generation (Kahfi-Gen), UKM Kerohanian Kristen Katolik, dan UKM Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) menjadi contoh bagaimana nilai religiusitas lintas agama dijalankan tanpa saling meniadakan. Ketiganya membuktikan bahwa toleransi bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata. Kegiatan pendalaman iman, dialog sosial, dan aksi kemanusiaan menjadi jembatan yang memperkuat nilai Pancasila, terutama sila pertama dan ketiga. Di tengah tantangan intoleransi dan polarisasi, kiprah UKM berbasis keagamaan ini menjadi benteng moral mahasiswa.
Di bidang pembinaan karakter fisik dan sportivitas, UKM Olahraga memberi kontribusi penting. Aktivitas olahraga mengajarkan disiplin, ketahanan mental, kerja sama, serta gaya hidup sehat—kompetensi dasar seorang warga negara yang tangguh. Sementara itu, UKM Puspenitetri melalui seni dan tari melestarikan budaya Nusantara sekaligus menjadi sarana diplomasi budaya. Melalui panggung-panggung seni, mahasiswa membawa identitas bangsa ke level nasional maupun internasional.
Pada aspek kemanusiaan, UKM KSR-PMI dan UKM Pramuka menjadi kepanjangan tangan Polkesma dalam aksi sosial, kesiapsiagaan bencana, donor darah, serta pertolongan pertama. Di era ancaman bencana yang meningkat, kemampuan ini menjadi bentuk bela negara yang sangat relevan, yakni melindungi sesama dan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat.
UKM yang bergerak pada isu sosial modern—UKM Perdana (Anti Narkoba) dan UKM PIK-M (Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa)—berkontribusi mengawal generasi muda agar terbebas dari narkoba, perilaku berisiko, dan masalah kesehatan mental. Upaya pencegahan ini menjadikan mahasiswa tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental, sehingga mampu berperan sebagai agen perubahan.
Tidak kalah penting, UKM PMC, UKM Paduan Suara, dan UKM Puspenitetri memperkuat identitas bangsa melalui harmoni seni, suara, serta ekspresi kreatif yang membanggakan.
Sementara UKM Bela Negara menjadi pusat kaderisasi karakter melalui pelatihan kedisiplinan, wawasan kebangsaan, survival, baris-berbaris, hingga pembinaan kepemimpinan. UKM ini menjadi inti nilai patriotisme di Polkesma.
Pada ranah intelektual, UKM Karya Ilmiah, UKM Fomatik, dan UKM Tangkas mengasah kemampuan analitis, teknologi informasi, dan critical thinking—yang menjadi kekuatan bangsa di era revolusi digital. Adapun UKM Mapala menanamkan jiwa cinta tanah air melalui petualangan alam, konservasi, dan mitigasi bencana.
Di era globalisasi, penguasaan bahasa asing tidak lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan menjadi modal strategis bangsa dalam persaingan internasional. Di lingkungan Poltekkes Kemenkes Malang, UKM English Community telah membuktikan bahwa penguatan kompetensi bahasa dapat menjadi bentuk nyata Bela Negara modern, yakni melalui prestasi dan diplomasi intelektual di tingkat global. Penguatan kompetensi ini Hasilnya sangat signifikan.
Alhasil, Poltekes Kemenkes Malang menghasilkan 24 prestasi internasional. Capaian ini tidak hanya mengangkat nama Poltekkes Kemenkes Malang, tetapi juga memperkuat citra mahasiswa Indonesia sebagai generasi yang komunikatif, cerdas, dan kompetitif di tingkat dunia.
UKM Anti Korupsi: Garda Moral Bela Negara
Menjawab tantangan bangsa terhadap maraknya kasus korupsi, Polkesma turut menghadirkan UKM Anti Korupsi sebagai bagian strategis pembentukan integritas. UKM ini menjalankan edukasi anti korupsi, kampanye budaya jujur, seminar integritas publik, pelatihan pelaporan pelanggaran (whistleblowing), serta gerakan mahasiswa antigratifikasi.
Di tengah ancaman korupsi yang menggerogoti bangsa dari dalam, keberadaan UKM Anti Korupsi menjadi benteng moral sekaligus medan latihan bagi mahasiswa agar kelak menjadi tenaga kesehatan yang berintegritas, tidak tergoda gratifikasi, dan menempatkan pelayanan publik di atas kepentingan pribadi. Inilah wujud bela negara paling esensial, yaitu melawan korupsi mulai dari lingkungan kampus.
UKM Sebagai Pilar Karakter Bangsa
Keseluruhan aktivitas UKM di Polkesma membuktikan bahwa Bela Negara bukan soal angkat senjata, tetapi bagaimana mahasiswa menghadapi tantangan global dengan kecerdasan, karakter, dan kompetensi. UKM memungkinkan mahasiswa menjadi individu yang:
– Toleran dalam keberagaman.
– Disiplin dalam tindakan.
– Berintegritas dalam moral.
– Tangguh dalam mental.
– Cinta tanah air dalam tindakan nyata.
– Mampu bersaing global dengan prestasi.
Karena itulah, UKM bukan sekadar organisasi, tetapi laboratorium karakter bangsa. Di era global yang serba cepat dan penuh kompetisi, peran UKM Polkesma dalam membangun jiwa Bela Negara semakin strategis. Dengan sinergi antara nilai religiusitas, intelektualitas, kepedulian sosial, prestasi internasional, integritas anti korupsi, serta wawasan kebangsaan, mahasiswa Poltekkes Malang tumbuh sebagai generasi yang siap mengabdi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.






