Tugusatu.com- Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Jawa Timur, secara berkelanjutan mengedukasi pelaku UMKM melibatkan Bea Cukai Malang. Tujuannya agar semakin banyak produk merambah pasar ekspor.
“Pelaku UMKM yang masuk klinik ekspor terus dibina sekaligus dicarikan buyer,” tegas Kepala Bidang UMKM Diskopindag Kota Malang, Farid Suaidi mendampingi Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, kemarin.
Ia menjelaskan pelatihan di Malang Creative Center lantai 6 pada Jumat (30/1/2026) akan terus bergulir dan berkelanjutan mengingat UMKM di Kota Malang tumbuh signifikan. Tren positif ini terus dijaga sehingga kian banyak pelaku UMKM naik kelas.
Setelah pengenalan manfaat dan potensi ekspor, termasuk perizinan, para pelaku usaha bakal menerima fasilitasi laporan keuangan, kemasan, dan branding. Bahkan, mereka dilibatkan dalam berbagai promosi melalui event lokal dan nasional. Hal itu berkaitan dengan program Ngalam Laris dan 1000 Event yang memperkuat pasar berimbas menumbuhkan perekonomian.
“Data terkini tahun 2026, jumlah UMKM di Kota Malang sebanyak 49.420 pelaku usaha dari sebelumnya 41.200 pelaku usaha. Terbanyak sektor kuliner menyusul fesyen, kriya, jasa, dan usaha lain,” ungkapnya.
Saat ini, produk UMKM yang tercatat di klinik ekspor sudah banyak yang merambah pasar di berbagai negara. Menurut Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Malang, Pitoyo Pribadi, sebanyak 45 pelaku usaha dari total 450 UMKM yang menerima pembinaan sejak tahun 2022 sudah ekspor. Negara tujuan ekspor terbanyak di Malaysia dan Singapura, Timur Tengah, dan Eropa.
Produk ekspor paling laris di antaranya biji kopi, arang, sayuran, makanan ringan, teh celup, kulit kerang, kriya, fesyen, keripik tempe, ubi cilembu, ikan asap, dan kacang tunggak. Adapun nilai ekspor mencapai miliaran rupiah.






