Bea Cukai Malang Dorong Kinerja Ekspor Produk UMKM

Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Malang, Pitoyo Pribadi mengedukasi pelaku UMKM di Malang Creative Center lantai 6, Jumat (30/1/2026). Foto: Tugusatu/Bagus Suryo
Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Malang, Pitoyo Pribadi mengedukasi pelaku UMKM di Malang Creative Center lantai 6, Jumat (30/1/2026). Foto: Tugusatu/Bagus Suryo

Tugusatu.com- Kantor Bea Cukai Malang, Jawa Timur, menyatakan sebanyak 45 pelaku UMKM di Kota Malang sudah ekspor produk di berbagai negara sepanjang tahun 2025. Tren positif itu terus digenjot agar kian tumbuh signifikan di tahun ini.

“Sebanyak 45 pelaku UMKM itu dari 450 UMKM yang menerima pembinaan di klinik ekspor sejak tahun 2022. Negara tujuan ekspor terbanyak di Malaysia dan Singapura, ada juga Timur Tengah dan Eropa,” tegas Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Malang, Pitoyo Pribadi.

Adapun berbagai produk kualitas ekspor di antaranya biji kopi, arang, sayuran, makanan ringan, teh celup, kulit kerang, kriya, fesyen, keripik tempe, ubi cilembu, ikan asap, dan kacang tunggak. Nilai ekspor bisa miliaran rupiah.

Di awal tahun 2026 ini, Bea Cukai Malang membina 20 pelaku UMKM yang produknya siap ekspor. Pelaku UMKM binaan Diskopindag Kota Malang itu diedukasi tentang potensi dan manfaat ekspor sembari didorong melengkapi perizinan. Mereka mengikuti pelatihan di Malang Creative Center lantai 6, Jumat (30/1/2026).

“Dari sisi perizinan UMKM sudah lengkap. Akan tetapi, perlu melengkapi perizinan lainnya sesuai spesifikasi produk yang berbeda-beda,” katanya.

Pitoyo menjelaskan pelaku UMKM harus menyesuaikan dengan perkembangan terkini sembari memetakan potensi negara tujuan ekspor. Selain itu, mereka didorong responsif dalam mencari informasi pasar sehingga produk cepat laku sesuai kebutuhan konsumen. Namun, penguatan pasar di dalam negeri menjadi keutamaan sebelum memutuskan ekspor.

Di sisi lain, pelaku UMKM dituntut terus belajar serta adaptif pada perkembangan global sejalan kemajuan teknologi dan media sosial. Termasuk memahami kebutuhan maupun tipikal konsumen di luar negeri. Itu sebabnya kompromi diperlukan dalam memasarkan produk.

Menurut Pitoyo, kompromi sangat penting mengingat konsumen biasanya hanya butuh membeli bahan baku tanpa merek atau label. Biasanya, konsumen di luar negeri akan mengemas produk dengan merek sendiri.

Hal itu kerap dijumpai pada produk berbahan kopi, sebab tipikal konsumen di Timur Tengah demen kopi arabika dan robusta dari Malang. Karena itu, teknik pemasaran dan negosiasi menjadi krusial agar produk cepat laku di pasar dunia.

“Pelaku UMKM bisa ekspor setelah pembinaan paling cepat 1-2 tahun dengan perizinan yang lengkap. Produk makanan perlu waktu lebih lama ketimbang produk sayur mayur, hortikultura dan buah karena pengemasan lebih simpel,” tuturnya.

ISSN 3063-2145
Penulis: Maghfirotul HasanahEditor: Bagus Suryo