Jadi Aktivis Kampus Suskes Antarkan Ruri Alumni UMM Terlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen

Miftahussururi, alumni UMM berkarir di Kemendikdasmen. Istimewa
Miftahussururi, alumni UMM berkarir di Kemendikdasmen. Istimewa

Tugusatu.com, MALANG–Aktivisme kampus kerap dianggap berhenti di ruang diskusi dan forum mahasiswa, namun bagi Miftahussururi, semangat berorganisasi justru menjadi fondasi untuk ikut menggerakkan arah kebijakan pendidikan nasional.

Alumnus Pendidikan Matematika dan Komputasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini berperan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membawa nilai-nilai kepemimpinan yang ia bangun sejak bangku kuliah.

“Saat ini saya bertugas sebagai leader Tim Kebjiakan dan Komunikasi Analis Data sekaligus membantu penyusunan dan pelaksanaan strategi komunikasi kebijakan dan program di satuan kerja saya,” ujarnya dikutip Sabtu (31/1/2026).

Ruri sapaan akrabnya mengawali kariernya di Kementerian Pendidikan pada 2017 setelah lolos seleksi yang cukup panjang.

Dalam perjalanannya, dia juga pernah bertugas di Tim Staf Khusus Menteri Bidang Pembelajaran, Ditjen GTK, serta Ditjen PAUDDasmen selama lima tahun hingga akhirnya, pada 2025, dia dipercaya bergabung di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Vokasi PKPLK).

Dia berkisah, dirinya yang merupakan mahasiswa produktif dan penuh inisiatif. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika “Matriks” (2011-2012), Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) “Raushan Fikr” FKIP (2012-2013), hingga Sekretaris Umum Koordinator Komisariat IMM UMM (2013-2014).

Tidak hanya itu, dia juga dipercaya menjadi Presidium Sidang dalam Kongres Ikahimatika Indonesia. Deretan pengalaman tersebut menunjukkan konsistensinya dalam membangun kepemimpinan dan jejaring sejak bangku kuliah.

Sementara itu, dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Ruri juga pernah mengalami struggle soal manajemen waktu.

Dia sempat kesulitan membagi waktu antara tugasnya sebagai mahasiswa dan keaktifannya di organisasi. Namun Ruri tetap meyakini bahwa kesibukan dan tekanan positif justru akan membentuk karakter dan kedewasaan dalam berpikir.

Dia juga menambahkan bahwa ia selalu mengingat sebuah nasehat yang pernah ia terima, “Kesibukan yang membuatmu letih lebih baik daripada waktu luang yang membuatmu terlena.” Itu lah yang membuatnya terus menjaga semangat dalam berproses.

Ruri juga menambahkan bahwa perjuangan kedua orang tua nya juga menjadi sumber motivasi utamanya untuk terus berprestasi dan memberi dampak positif. “Yang membuatku punya energi dan terus berjuang adalah potret perjuangan orang tuaku yang telah mengantarkanku hingga bisa merasakan bangku kuliah. Karena itulah aku tidak ingin mengecewakannya,” ujarnya.

Bagi Ruri, kebahagiaan terbesar dalam bekerja adalah ketika kontribusinya mampu memberi dampak nyata. Ia mengaku terharu saat melihat perubahan pola pikir guru-guru di berbagai daerah setelah kebijakan yang ikut disusunnya diterapkan.

Menurutnya, perubahan kecil dalam dunia pendidikan dapat membawa dampak besar bagi masa depan bangsa.

Ruri juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut dan merasa bingung dalam menentukan arah hidup. Ia menekankan pentingnya self-awareness, mengenali minat, bakat, serta potensi diri. “kesadaran diri (self-awareness) itu begitu penting bagi generasi muda saat ini.

Perlunya mengenal diri sendiri, ‘Who am I?’, apa yang menjadi minat, bakat, kelebihan, dan kekurangan diri untuk memastikan pilihan setelah lulus sesuai dengan keinginan, kepribadian dan keahlian,” tutupnya.

ISSN 3063-2145
Penulis: Bagus Suryo Editor: Tim Redaksi