Aris Krisdian., S.Pd.I., M.Pd., Gr
Guru SMPN 2 Sumberpucung, Kabupaten Malang
Manusia kerap tenggelam dalam perasaan saat melakoni aktivitas kehidupan saban hari. Kendati tak pukul rata, tetapi demikian adanya. Umumnya, ia merasa senang ketika keinginan sesuai harapan. Sebaliknya, ia merasa sedih dan kecewa ketika kehilangan. Di sisi lain, merasa marah saat tersinggung, dan merasa cinta ketika hati berdebar dan berbunga.
Itu sebabnya manusia perlu menyadari keutamaan belajar diam dalam rasa, memasuki ruang sunyi tempat segala kegaduhan batin mereda. Di sanalah letak hakikat terdalam dari pengalaman spiritual manusia, yaitu rasa.
Perasaan itu gerak, sementara rasa adalah diam. Perasaan menuntut, rasa menerima. Perasaan berbicara, rasa mendengarkan. Perasaan merupakan gelombang, rasa adalah lautan yang tenang.
Dalam konteks ini, memahami perbedaan keduanya sebuah pilihan sebagai langkah awal menuju kedalaman diri. Sebab, perasaan sebagai fenomena psikologis. Adapun rasa sebagai kesadaran murni yang dalam psikologi modern disebut emotion. Hal itu dipahami sebagai respons biologis dan mental yang lahir dari interaksi pikiran, ingatan, serta pengalaman sensorik. Ia bersifat reaktif, cepat berubah, dan sangat terhubung dengan sistem saraf.
Akan tetapi, apa yang kita sebut rasa dalam tradisi spiritual tidak setara dengan konsep psikologis tersebut. Rasa lebih dekat dengan apa yang dalam fenomenologi Edmund Husserl disebut sebagai kesadaran pra-reflektif, yaitu keadaan mengetahui tanpa proses berpikir. Ia tidak bergerak, tidak berkisah, tidak memihak. Ia adalah being, bukan thinking.
Di sinilah letak perbedaannya: Perasaan = respons psikis yang berasal dari tubuh, otak, memori, dan ego. Rasa = kesadaran yang hadir sebelum pikiran muncul, lebih dekat dengan eksistensi murni.
Dalam perspektif filsafat dari Sokrates hingga Heidegger, para filsuf besar menyinggung tentang “kehadiran diri” yang bebas dari hiruk pikuk mental. Sokrates menyebutnya sebagai Gnothi seauton, kenali dirimu. Namun diri yang dikenali bukanlah pikiran atau emosi, melainkan inti keberadaan.
Plotinus, filsuf neoplatonik, menyebut pengalaman ini sebagai The One, kesatuan batin tanpa dualitas. Heidegger menyebutnya Gelassenheit, keadaan melepas dan membiarkan, ketika manusia berhenti mendominasi dunia dengan kehendaknya. Pada titik ini, manusia tidak lagi beroperasi dengan “perasaan” melainkan dengan penyadaran kehadiran.
Semua filsafat besar kembali pada satu titik: Ada sesuatu dalam diri manusia yang lebih sunyi daripada pikiran dan lebih dalam daripada emosi. Itulah rasa.
Sedangkan perspektif tasawuf, rasa sebagai suara Tuhan dalam kalbu. Dalam tasawuf, konsep rasa sangat dekat dengan dzauq, sebuah pengalaman langsung terhadap Tuhan, tidak melalui logika atau kata-kata.
Karena itu Al-Ghazali menegaskan bahwa pengetahuan tertinggi bukanlah hasil berpikir, tetapi hasil “merasakan” kebenaran dengan hati yang bening.
Para sufi membedakan antara perasaan spiritual (seperti merasa tenang, bahagia, haru), yang masih melekat pada ego halus, dan rasa sejati, yaitu ketika ego telah sirna dan yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan.
Ibnu Arabi menggambarkan kondisi ini sebagai “Tuhan mencintai diri-Nya melalui dirimu”. Pada titik ini, tidak ada lagi “aku mencintai Tuhan”. Yang ada hanyalah cinta itu sendiri, mengalir tanpa pelaku.
Dalam perspektif Kejawen, rasa sebagai pamoring kawula gusti. Ajaran kejawen memaknai rasa memiliki tempat yang sangat tinggi. Kemudian memunculkan kearifan Jawa yang membedakan raos (rasa batin yang halus), rumangsa (rasa sebagai perasaan/emosi), ngrasakake (refleksi rasa yang sudah menyatu dengan kesadaran).
Bahkan dalam ajaran Sangkan Paraning Dumadi mengajarkan bahwa manusia dapat menyatu dengan Tuhan bukan melalui ritual semata, tetapi melalui kemampuan menembus rasa sejati. Ketika rasa menjadi bening, manusia mencapai pamoring kawula Gusti, penyatuan hamba dengan Tuhan dalam kehadiran yang hening.
Serat Wedhatama telah menegaskan “Ngelmu iku kalakone kanthi laku“. Pengetahuan sejati hanya hadir melalui laku sunyi. Dan, salah satu laku tertinggi adalah rasa sinengker, diam dalam rasa, menyimpan sunyi, membiarkan diri hadir tanpa suara.
Seperti analogi lautan dan ombak. Bayangkan laut yang sangat luas. Ombak di permukaan merupakan ekspresi perasaan, bergelombang, dipengaruhi angin, tak pernah stabil. Adapun rasa berada di keheningan dasar laut. Ia selalu ada, tidak berubah, tidak terpengaruh badai.
Ini bermakna selama kita hidup hanya di permukaan, kita akan lelah oleh pergolakan ombak. Ketika kita menyelam ke dasar, bakal menemukan keheningan yang tidak pernah tersentuh oleh perubahan.
Contoh kasus
Yang memperjelas pada keadaan tersinggung vs memahami. Ketika seseorang menyinggung kita lalu kita marah, maka yang bereaksi itu perasaan. Jika kita diam, mengerti konteks, dan tidak bereaksi karena memahami, itu rasa. Rasa tidak muncul untuk membela ego, justru ia hadir ketika ego tidak diikutsertakan.
Contoh lainnya cinta yang mengikat vs cinta yang membebaskan. Jika seorang pemuda mencintai seorang gadis. Lalu ia ingin memiliki, ingin dibalas, dan ingin diakui. Maka, hal itu perasaan. Di sisi lain, jika ia mencintai tanpa ingin memiliki, melainkan hanya ingin kebaikan gadis itu, maka hal itu rasa.
Saat memaknai cinta yang berasal dari perasaan, kerap membuat manusia menggenggam. Bila cinta yang berasal dari rasa membuat manusia melepas.
Contoh juga bisa ditemui dalam keputusan dalam sunyi Seorang guru hendak menegur muridnya yang berbuat salah. Bila ia menegur karena jengkel, itu perasaan. Bila ia menegur karena sayang dan ingin mendidik, itu rasa. Dalam konteks ini, tindakan bisa sama, tapi sumbernya berbeda.
Lalu, mengapa perlu kembali pada rasa?. Karena rasa adalah sumber keheningan, pintu menuju kesadaran murni, jembatan untuk mengenal Tuhan tanpa perantara, dan pusat kedamaian yang tidak dapat diganggu oleh perubahan dunia.
Ketika kita hidup dari perasaan, hidup terasa berat, penuh tuntutan dan harapan. Namun ketika kita hidup dari rasa, kita tidak lagi berkejar-kejaran dengan dunia. Kita hanya hadir, sebagaimana adanya. Sebab, rasa bukan milik kita. Rasa adalah cahaya yang datang ketika ego berhenti berbicara.
Rasa itu suara Tuhan yang hanya dapat didengar dalam sunyi.
Kembali ke sunyi
Pada akhirnya, perjalanan spiritual manusia itu bukanlah perjalanan untuk menambah, tetapi untuk mengurangi. Ini berarti mengurangi suara pikiran, mengurangi tuntutan perasaan, hingga yang tersisa hanyalah hening.
Dalam keheningan itu, kita tidak lagi berkata “Aku merasa damai”. Karena yang mengatakan “Aku” sudah lenyap. Yang ada hanya damai itu sendiri, menyelimuti, menembus, hadir tanpa nama. Itulah hakikat rasa. Sebuah jalan sunyi, kesadaran yang menuntun manusia pulang kepada Tuhan. Bukan sebagai konsep, bukan sebagai figur, tetapi sebagai Ada yang meliputi segala sesuatu.






