Wali Kota Wahyu: Busana Khas Kota Malang Perkuat Identitas Mbois Berkelas

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama Wakil Wali Kota Ali Muthohirin dan Ketua DPRD Amithya Ratnanggani Sirraduhita mengenakan busana khas saat HUT Kota Malang ke-112. Foto: Tugusatu/Maghfirotul Hasanah
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama Wakil Wali Kota Ali Muthohirin dan Ketua DPRD Amithya Ratnanggani Sirraduhita mengenakan busana khas saat HUT Kota Malang ke-112. Foto: Tugusatu/Maghfirotul Hasanah

Tugusatu.com- Pagi itu udara di Kota Malang masih terasa sejuk yang khas. Di antara langkah-langkah mulai berbaris rapi dan senyum semringah di Balai Kota Malang, ada sesuatu pelan-pelan mencuri perhatian. Bukan seremoni dan pidato, melainkan apa yang dikenakan.

Jas hitam tampak seragam. Sepatu pantofel mengilap di bawah cahaya pagi. Ketika mata turun sedikit lebih dalam, terlihat detail yang berbeda. Batik dengan motif heritage terasa baru, lengkap dengan peci menegaskan karakter yang tetap hidup.

Di Balai Kota, masyarakat berkumpul bukan sekadar upacara memperingati HUT Kota Malang ke-112, akan tetapi seolah menikmati kenangan yang sedang berjalan. Mereka berkumpul menyatu dalam satu momen kelahiran sebuah identitas baru yang bisa dikenakan, yakni busana khas Kota Malang.

Para aparatur sipil negara (ASN) tampil serempak. Suasana terasa hidup bukan hanya formalitasnya, melainkan detail yang melekat. Busana batik bermotif khas lengkap dengan peci memperkuat kesan heritage. Aura kebanggaan pun tampak dari cara mereka mengenakannya.

Busana itu bukan hadir begitu saja.
Di balik setiap jahitan dan motifnya, tersimpan cerita penuh makna tentang kota yang tumbuh dari lintas zaman, mulai Kerajaan Singhasari dan era kolonial hingga denyut kehidupan modern yang terus bergerak. Semangat yang diusung dalam HUT kali ini, yaitu Malang Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas. Seolah menjelma nyata dalam wujud pakaian dan spirit pembangunan berkelanjutan.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengatakan peluncuran busana khas Kota Malang ini menegaskan karakter dan identitas.

“Ini bukan hanya soal busana. Ini tentang bagaimana kita menghadirkan identitas Kota Malang yang berakar dari sejarah dan budaya lokal,” kata Wahyu, Rabu (1/4/2026).

Bahkan, busana ini membawa makna yang lebih dalam. Motif bunga teratai, Tugu Malang, hingga pola kawung yang terinspirasi dari era Singhasari dirangkai menjadi satu kesatuan visual yang kuat. Motif kopi menjadi ciri khas, hadir memperkuat karakter Kota Malang yang hangat, dinamis, dan penuh cerita.

Jika diperhatikan lebih dekat, perpaduan itu seperti peta perjalanan kota yang jejaknya begitu kuat sampai sekarang. Ada masa lalu menyatu dalam tradisi, budaya, dan teladan yang dihormati, masa kini yang dirayakan, dan masa depan yang sedang disiapkan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana menyatakan busana ini lahir dari proses panjang karya ekonomi kreatif yang memperhatikan detail desain estetika.

“Ini bukan sekadar estetika, tetapi juga filosofi gerak, bahwa pemimpin harus siap turun langsung ke lapangan,” tuturnya.

Pernyataan itu terasa relevan dengan potongan busana yang tetap formal, namun fleksibel, seolah mengingatkan bahwa di balik tampilan rapi, ada tuntutan untuk tetap dekat dengan masyarakat.

Di tengah perayaan itu, ada satu hal menjadi jelas, ada yang bisa dikenakan, dibawa berjalan, bahkan menjadi bagian dari keseharian berkarakter sebagai identitas. Busana khas ini diharapkan tidak berhenti sebagai simbol seremoni tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi media yang menghubungkan warga dengan kotanya sekaligus membangun rasa memiliki bersama dengan penuh kesadaran.

Pada akhirnya, sebuah kota tidak hanya dikenang dari bangunan heritage atau jejak sejarahnya, tetapi dari bagaimana warganya merasa menjadi bagian darinya. Di HUT ke-112 ini, Kota Malang menegaskan identitas yang hidup menjadi milik bersama.(*)

ISSN 3063-2145
Penulis: Maghfirotul HasanahEditor: Bagus Suryo