Wali Kota Wahyu Gowes dari Balai Kota ke Gang Warga

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersepeda saat menghadiri peluncuran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Jumat (27/3/2026). Foto: Tugusatu/Bagus Suryo
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersepeda saat menghadiri peluncuran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Jumat (27/3/2026). Foto: Tugusatu/Bagus Suryo

Tugusatu.com- Pagi Itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat memilih mengayuh sepeda ketimbang mengendarai mobil dinas. Ketika udara pagi masih terasa sejuk, roda sepeda mulai berputar pelan dari halaman Balai Kota Malang.

Sang wali kota tampak santai mengayuh, meninggalkan sejenak rutinitas mobil dinas yang biasa mengantarnya. Tak ada sirene dari kendaraan patwal. Juga tak terlihat iring-iringan protokoler. Hanya kayuhan sepeda, jalanan pagi, dan sapaan warga yang menyambut hangat di sepanjang perjalanan.

Suasana itu membuat warga yang berpapasan tampak terkejut, lalu tersenyum. Wahyu pun membalas dengan anggukan ringan dan senyum ramah sembari melambaikan tangan. Momen sederhana itu terasa lebih dekat dan lebih bersahaja.

Pagi itu, Wahyu bersepeda tujuannya bukan sekadar kantor. Ia menuju Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, untuk menghadiri peluncuran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis. Namun cara ia datang, menjadi cerita tersendiri.

Sejumlah kepala perangkat daerah pun ambil bagian. Mereka yang ikut mengayuh sepeda, di antaranya Kepala Dinas Kesehatan Husnul Muarif, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Slamet Husnan Hariyadi, dan Camat Klojen Willstar Taripar Hatigoron. Mereka bersama gowes tanpa sekat jabatan, bergerak dalam ritme yang sama, yakni pelan, tapi pasti.

Bagi Wahyu, ini bukan sekadar olahraga pagi. Ada pesan yang ingin disampaikan lewat setiap kayuhan sebagai teladan, yaitu tentang hidup yang lebih sehat, ramah lingkungan, tentang kesederhanaan, dan cara baru melayani masyarakat.

“Penggunaan sepeda akan dipadukan dengan kegiatan rutin Jumat Krida,” ujar Wali Kota Wahyu, Jumat (27/3/2026).

Ke depan, gowes bukan lagi sekadar kegiatan sesekali. Ia ingin menjadikannya kebiasaan baru bagi aparatur sipil negara (ASN) di Kota Malang, bagian dari rutinitas, bukan sekadar seremoni.

Di balik kesederhanaan itu, terselip kegelisahan yang lebih besar, yaitu soal energi. Wahyu memahami, dunia sedang tidak sepenuhnya baik-baik saja. Gejolak di Timur Tengah bisa berdampak pada ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), termasuk di Indonesia.

Namun, alih-alih menunggu krisis datang, ia memilih memulai langkah dari bersepeda yang memberikan banyak makna. Menurutnya, jika kebiasaan ini dilakukan bersama, dampaknya bisa terasa. Penggunaan kendaraan bermotor berkurang, pengeluaran untuk bahan bakar ditekan, dan kesehatan tetap terjaga.

“Manfaatnya jelas, lebih sehat dan bisa menghemat BBM,” katanya.

Wahyu menyadari, tidak semua orang memiliki sepeda. Untuk itu, ia menekankan bahwa pilihan lain tetap tersedia, seperti transportasi umum Bus Trans Jatim. Baginya, yang terpenting bukan soal alat transportasinya, melainkan kesadaran bersama.

Kendati mengajak berhemat, Wahyu memastikan kondisi Kota Malang masih aman. Ia tak ingin masyarakat diliputi kekhawatiran berlebihan.

“Sementara ini aman, tidak perlu panic buying. Ini lebih ke langkah antisipasi saja,” ujarnya menenangkan.

Pagi itu, mungkin hanya sepeda yang melaju dari Balai Kota menuju sudut kota. Lebih dari itu, ada pesan yang ikut bergerak, yakni perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan ramah lingkungan ini. Dari satu kayuhan, menuju kota yang lebih sehat, hemat, dan bersahaja.(*)

ISSN 3063-2145
Penulis: Bagus/Maghfirotul HasanahEditor: Ahmad Yakub