Stok Jagung Melimpah, Malang Dorong Diversifikasi Pangan dan Serapan Petani

Petani di Kabupaten Malang, Jawa Timur, panen jagung beberapa waktu lalu. Foto: ilustrasi tugusatu/Bagus Suryo
Petani di Kabupaten Malang, Jawa Timur, panen jagung beberapa waktu lalu. Foto: ilustrasi tugusatu/Bagus Suryo

Tugusatu.com- Stok jagung di Malang, Jawa Timur, melimpah seiring panen yang berlangsung sejak awal tahun 2026. Ketersediaan komoditas ini diperkirakan terus meningkat menjelang panen berikutnya pada April.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang, Mahila Surya Dewi, mengungkapkan triwulan pertama 2026, luas tanam jagung mencapai sekitar 9.999 hektare. Sementara itu, panen pada periode Januari-Februari tercatat seluas 13.838 hektare dengan total produksi mencapai 95.330 ton.

Melimpahnya stok jagung ini tidak terlepas dari capaian produksi tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, Kabupaten Malang surplus jagung sekitar 77.496 ton. Dari luas panen 41.401 hektare, produksi bersih mencapai 210.859 ton, jauh melampaui kebutuhan konsumsi yang berada di angka 133.363,55 ton. Alhasil, ketahanan stok jagung pun relatif kuat hingga 6,5 bulan.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Malang untuk mempercepat program diversifikasi pangan berbasis potensi lokal. Upaya ini dilakukan sebagai alternatif selain beras, mengingat ketahanan stok padi hanya sekitar 1,95 bulan meski surplus mencapai 44.021 ton pada 2025.

“Kami mendorong pemanfaatan jagung sebagai alternatif konsumsi sekaligus bahan baku program pangan bergizi,” tegas Mahila.

Di sisi lain, pasokan jagung juga diperkuat dari wilayah Kota Malang. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, menyebut produksi jagung tahun 2025 di Kecamatan Kedungkandang mencapai 870 ton dari luas lahan 117 hektare. Sementara di Kecamatan Lowokwaru, panen dilakukan di lahan seluas 5 hektare dengan hasil sekitar 35 ton.

Produktivitas jagung di beberapa wilayah bahkan tergolong tinggi. Salah satunya di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, di mana panen ubinan pada lahan seluas 0,3 hektare diperkirakan menghasilkan hingga 18,29 ton per hektare. Berdasarkan data Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) 2026, luas lahan jagung di wilayah tersebut mencapai 19,76 hektare.

Melimpahnya produksi jagung ini dinilai memiliki peluang besar untuk terserap pasar, terutama dengan dukungan Perum Bulog Cabang Malang yang siap membeli hasil panen petani.

Pemimpin Cabang Bulog Malang, M. Nurjuliansyah Rachman, menyampaikan realisasi pengadaan jagung hingga Maret 2026 telah mencapai 542 ton dari target tahunan sebesar 7.000 ton. Penyerapan ini diproyeksikan meningkat pada periode panen April mendatang.

Bulog berkomitmen menyerap jagung pipilan kering sesuai ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Saat ini, harga pembelian di tingkat petani ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram untuk kadar air 18-20 persen.

Sementara itu, harga di gudang Bulog mencapai Rp6.400 per kilogram dengan standar kadar air maksimal 14 persen dan kandungan aflatoksin maksimal 50 part per billion (ppb).

Kebijakan tersebut mengacu pada Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 216 Tahun 2025, sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2025 terkait pengelolaan jagung dalam negeri serta penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).

Dengan dukungan produksi yang tinggi dan kepastian serapan, jagung di Malang diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani.

ISSN 3063-2145
Penulis: Bagus SuryoEditor: Tim editor