Tugusatu.com- Saat hari masih pagi, udara yang menyehatkan di sepanjang Jalan Ijen, Kota Malang, Jawa Timur, masih terasa sejuk. Deretan pohon berdiri kokoh dan teduh, sementara langkah-langkah para pejabat dan warga mulai memenuhi sisi jalan. Mereka berkumpul bukan untuk seremoni semata, melainkan untuk aksi nyata.
Di tengah suasana itu, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, berdiri bersama Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dan Bupati Malang, Sanusi. Mereka mengikuti apel siaga Gerakan Indonesia Asri (aman, sehat, resik, indah), Minggu (29/3/2026).
Namun, momen itu tak berhenti di barisan apel. Tak lama berselang, para pemimpin itu turun langsung ke jalan. Dengan tangan sendiri, mereka memungut sampah yang tersisa di sepanjang kawasan ikonik tersebut. Di belakang mereka, masyarakat dan aparatur sipil negara ikut bergerak, menciptakan pemandangan gotong royong yang sederhana, tetapi bermakna.
Menteri Hanif Faisol Nurofiq menegaskan gerakan ini bukan sekadar simbolik. Ia menyebut, persoalan sampah kini sudah menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Arahan tersebut datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto, yang menilai banyak daerah telah memasuki kondisi darurat sampah.
“Bapak Presiden ingin masalah sampah ini selesai. Tapi tentu tidak mudah, tidak seperti kita membalikkan tangan,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah meluncurkan Gerakan Nasional Indonesia Asri pada Februari 2026 di Sentul. Gerakan ini mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya kerja bakti. Gerakan pun bergulir dari seruan nasional ke aksi nyata.
“Kurvei ini artinya kita semua diminta, paling tidak seminggu sekali, mengajak masyarakat membersihkan lingkungan. Syukur-syukur bisa setiap hari kerja,” ujarnya.
Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya peran pemerintah sebagai teladan. Karena itu, pemerintah dan masyarakat yang memulai. Menurut Hanif, kesadaran lingkungan menjadi yang utama, dari mengolah sampah berdampak besar pada hidup ramah lingkungan.
Spirit itu sebenarnya sudah mulai tumbuh. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengungkapkan berbagai langkah telah dilakukan untuk membangun kesadaran warga.
Setiap Rabu dan Jumat, kerja bakti rutin digelar. Bahkan di sekolah, kebiasaan menjaga kebersihan ditanamkan sejak dini. Siswa diminta membersihkan lingkungan sebelum memulai pelajaran.
“Anak-anak sebelum masuk harus bersih-bersih dulu. Ini bagian dari pembiasaan,” tuturnya.
Langkah-langkah yang begitu bermakna itu bukan tanpa alasan. Sampah, menurut Wahyu, menjadi salah satu penyebab banjir di Kota Malang, dipicu kebiasaan sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.
Jadi, apa yang terjadi di Jalan Ijen pagi itu mungkin terlihat sederhana, yakni memungut sampah, menyapu jalan, dan bekerja bersama. Namun di baliknya, ada pesan yang lebih besar, yaitu perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari tindakan dari diri sendiri yang dilakukan bersama.
Gerakan Indonesia Asri bukan hanya tentang bersih-bersih. Gerakan itu merupakan ajakan untuk membangun kesadaran kolektif, bahwa lingkungan yang sehat adalah tanggung jawab bersama.
Seperti pagi itu di Ijen, perubahan bisa dimulai dari satu langkah kecil, membungkuk lalu memungut sampah di sekeliling kita, selanjutnya membuang sampah di tempat yang semestinya.






