Batik Blimbing Malang Nikmati Berkah Lebaran

Wiwik Niarti, Owner Batik Blimbing Malang, Jawa Timur, menunjukkan motif batik yang menjadi unggulan. Foto: Tugusatu/Bagus Suryo
Wiwik Niarti, Owner Batik Blimbing Malang, Jawa Timur, menunjukkan motif batik yang menjadi unggulan. Foto: Tugusatu/Bagus Suryo

Tugusatu.com- Wiwik Niarti, Owner Batik Blimbing Malang, Jawa Timur, semringah lantaran produk batik laris manis menjelang Lebaran 2026. Pembatik meraup rezeki dari banyaknya pesanan.

“Lebaran ini lumayan meskipun jualan kustom melayani pesanan. Ada orang datang, pesanan lumayan banyak,” tegas Wiwik Niarti, Selasa (3/3/2026).

Animo pembeli meningkat, batik selain untuk baju Lebaran juga oleh-oleh khas Malang. Konsumen bisa memilih langsung berbagai motif di galeri dan tempat produksi Jalan Candi Jago No. 6 Blimbing, Kota Malang.

Aktivitas membatik di Batik Blimbing Malang.
Aktivitas membatik di Batik Blimbing Malang.

Konsumen bukan saja demen membeli batik, tetapi mereka juga bisa belajar teknik membatik dan berwisata. Sebab, perajin turut memberikan layanan edukasi.

Selama ini, Batik Blimbing Malang mengembangkan motif ikon Malangan. Produk unggulan sekaligus best seller, motif kampung warna warni. Adapun karya pertama saat pelaku UMKM itu menggeluti perbatikan ialah motif batik Topeng Malangan.

“Karya pertama motif Topeng Malangan. Selanjutnya berkembang desain motif ikon Kota Malang seperti tugu, heritage, bunga teratai dan lainnya,” katanya.

Selain itu, Wiwik mengembangkan motif batik Daniswara Silamukti, Topeng Malangan, dan Pituhayu bermotif merak. Sejumlah motif batik tulis ukuran 2,5 meter x 1,15 meter itu paling laris, menjadi produk favorit dan populer.

“Pituhayu bermotif merak melayani pesanan dan sudah terjual Rp1,2 juta,” ucapnya.

Soal harga, lanjut Wiwik, konsumen memiliki beragam pilihan. Di Batik Blimbing, harga dipatok mulai Rp175 ribu sampai ke atas tergantung motif dan proses pengerjaan.

Dari banyaknya pesanan berimbas peningkatan omzet yang signifikan. Bagi perajin batik skala UMKM itu yang penting usaha tetap jalan secara berkelanjutan. Batik tetap eksis menjadi keutamaan lantaran usaha berkaitan dengan seni berproses tanpa perlu memaksa.

“Omzet lumayan, UMKM berprinsip usaha tetap jalan berkelanjutan tanpa memaksa. Yang penting bisa menghidupi tiga karyawan,” tuturnya.

Wiwik menjelaskan kiat agar usaha batik tetap eksis itu prinsipnya tekun mengembangkan usaha, kreatif dan inovatif. Mitra menjadi penguat dengan menggandeng komunitas ekonomi kreatif (ekraf), dunia pendidikan, dunia usaha dan dunia industri. Beragam pelatihan pun digelar melibatkan pemangku kepentingan. Termasuk menjalin kerja sama berkelanjutan dengan sekolahan, perguruan tinggi, mahasiswa, bahkan kompetitor juga diajak sinergi dan kolaborasi.

Kini, produk batik Blimbing Malang selain merambah sejumlah daerah di Tanah Air, pembeli juga dari Malaysia, Singapura, Inggris, Kenya, dan Meksiko. Bahkan, pada gelaran Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), seragam batiknya pesan di Batik Blimbing.

“Kita juga ikut dalam program kerja sama pertukaran mahasiswa. Para mahasiswa belajar batik dan belanja,” ujarnya.

Teknologi tepat guna canting listrik.
Teknologi tepat guna canting listrik.

Tantangan batik

Wiwik menggeluti batik sejak tahun 2009 ketika batik Indonesia mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) dari UNESCO pada 2 Oktober 2009. Saat itu, Wiwik yang menjadi guru Bahasa Inggris di SMKN 4 Malang mengembangkan bakat dan minat di sekolahan grafika tersebut. Ia mendapatkan beragam pengetahuan desain, menggambar dan konten.

Semula, ia memulai bisnis skala kecil sembari mengembangkan kapasitas melalui beragam fasilitasi pelatihan bersama pemangku kepentingan.

Hal itu gayung bersambut saat Pemkot Malang membuat kebijakan ekraf. Lalu, menginisiasi pengembangan sumber daya manusia sebagai pembatik melalui berbagai pelatihan melibatkan PKK dan perguruan tinggi.

“Memang tidak mudah, karena batik itu seni. Dari 30 orang kemudian banyak yang mrotoli padahal batik sudah dikenal luas masyarakat,” ucapnya.

Namun, Wiwik tak menyerah. Ia getol sosialisasi dan edukasi merambah kampung. Tujuannya agar ada lebih banyak pembatik tersebar di semua kelurahan. Apalagi, produk batik menjadi unggulan sebagai usaha yang memiliki potensi besar meraup cuan.

“Saya mengajak generasi muda, di SMKN 4 ada jurusan tekstil spesial di batik. Para lulusan direkrut untuk produksi.”

Akan tetapi, tak banyak anak muda minat di batik. Mereka memiliki ekspektasi lebih demen bekerja di sektor lain. Selanjutnya, ia membuat strategi membina ibu rumah tangga.

Dalam perjalanan Batik Blimbing Malang, awal berkembang dilandasi spirit melestarikan budaya dan tradisi bangsa. Lalu, mendapatkan dukungan dari Diskopindag Kota Malang melalui pelatihan, pameran, dan fasilitasi perizinan. Bank Indonesia Malang pun turut ambil bagian memberikan bantuan pembangunan tempat produksi dan instalasi pengolahan limbah.

Sejalan Kota Malang yang sukses mengembangkan Ekraf dan objek wisata dengan unggulan kampung tematik, akhirnya batik Malangan menjadi salah satu ikon pariwisata. Kini, usaha batik menemukan jalan sukses, jejaknya bisa dilihat di Batik Blimbing Malang.

Usaha batik pun kian maju dengan memproduksi beragam motif. Bahan batik seperti malam atau lilin diproduksi sendiri, bahkan ia membuat inovasi canting listrik. Penerapan teknologi tepat guna itu menyatu dengan roller pewarnaan kain batik dan pengeringan guna mengatasi bila tidak ada sinar matahari.

“Alhamdulillah dalam perjalanan bisa mengembangkan usaha batik, kemajuan positif dan membaik, bisa mengenalkan batik Malang di Indonesia dan luar negeri,” imbuhnya.

Alhasil, batik Malang kian moncer. Ada banyak pembatik bermunculan diikuti usaha yang berkembang. Kendati usaha batik memiliki tantangan semakin banyak pesaing, tapi usaha ini awet dalam menambah penghasilan keluarga. Terpenting, perajin tetap tekun sembari mengembangkan kreativitas dan inovasi menjadi yang utama. Tujuannya agar usaha tetap eksis, berkelanjutan dan terus berkembang.

“Dari karya motif batik Topeng Malangan, sekarang kami sudah memiliki 100 karya motif. Selanjutnya nanti akan membuat katalog,” pungkasnya.

ISSN 3063-2145
Penulis: Bagus SuryoEditor: Tim editor