Tugusatu.com- Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM), Jawa Timur, menyatakan batik Malang mengalami perkembangan yang progresif ditandai dengan usaha batik tumbuh signifikan. Bahkan, pembatik telah beradaptasi dengan menerapkan teknologi sesuai perkembangan zaman terkini.
Ketua Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Isa Wahyudi akrab disapa Ki Demang.menyatakan sebanyak 90 pembatik tergabung dalam asosiasi. Kendati baru 20% pembatik tergolong produktif, tetapi mereka konsisten melestarikan tradisi. Para pembatik lainnya yang kurang produktif tetap memberikan dukungan.
Di Kota Malang, batik telah menjadi ikon pariwisata menyatu dengan kampung tematik. Sesuai data Forkom Pokdarwis Kota Malang, ada 23 kampung tematik memperkuat daya tarik di 52 objek wisata. Di Kampung Budaya Polowijen, batik menjadi bagian penting pengembangan industri kreatif berbasis budaya.
Sejumlah perajin yang konsisten mengembangkan usaha batik di antaranya Batik Soendari, Batik Blimbing, Batik Kantil Vandriel Bunulrejo, Batik Kampung Budaya Polowijen, Batik Wahastu dan Hamparan Rintik.
“Para perajin di beberapa kecamatan dan kelurahan sering ada event pelatihan dan pameran. Ini tandanya promosi batik sebagai salah satu warisan budaya mulai di terima masyarakat,” kata Ki Demang.
Bahkan, para perajin sudah adaptif terhadap kemajuan teknologi dan informasi. Dalam konteks ini, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang bekerja sama dengan Universitas Brawijaya mengembangkan inovasi berbasis kecerdasan buatan. Kerja sama melibatkan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) terkait pengembangan Generative Artificial Intelligence sebagai upaya transformasi digital batik Malang.
“Perajin difasilitasi berupa digitalisasi dengan website dan mobile aplikasi Batikpedia dan Gen Batik berbasis AI,” ujarnya.
Kemajuan batik kian signifikan setelah Dekranasda dan Diskominfo Kota Malang memberi dukungan dengan memfasilitasi Batik Award 2025. Gelaran itu menandai perajin beroleh penghargaan sehingga kian menyemangati pembatik dalam memajukan batik Malang.
Para perajin juga menginisiasi beragam event dari kampung. Partisipasi masyarakat pun begitu antusias turut memberikan dukungan. Perajin batik di Kedungkandang secara rutin menggelar festival batik mengakomodir perajin se Kota Malang.
“Dalam festival ada gelaran fesyen show, pameran batik serta launching motif batik menjadi awal perkembangan batik Malang,” ucapnya.
Para aktor batik Malang telah bermunculan. Tokoh senior dan inovator getol memotivasi pembatik pemula menyatu dengan para tokoh lingkungan batik dan tokoh pembaharu batik maupun tokoh disabilitas batik.
“Ini membawa spirit pengembangan batik Malang,” tuturnya.
Kini, perajin batik mengadaptasi kebutuhan konsumen untuk anak muda dan kustom, misalnya batik untuk tas, batik untuk obi untuk outer,” imbuhnya.
Wiwik Niarti, Owner Batik Blimbing Malang menyatakan telah memiliki 100 motif batik. Motif Malangan menjadi ikon seperti tugu, heritage dan bunga teratai. Perajin telah menerapkan teknologi tepat guna berupa canting listrik.
Adapun Batik Blimbing yang best seller di antaranya motif Kampung Warna Warni, Topeng Malangan, Daniswara Silamukti, dan Pituhayu bermotif merak.
Sejumlah motif batik tulis ukuran 2,5 meter x 1,15 meter itu paling laris, menjadi produk favorit dan populer. Harganya dibanderol mulai Rp175 ribu sampai ke atas tergantung motif dan proses pengerjaan.
Di sisi lain, Kepala Bidang UMKM Diskopindag Kota Malang, Farid Suaidi menyatakan pelatihan menjadi bagian penting dalam memajukan batik Malang. Hal ini sejalan dengan implementasi investasi sumber daya manusia di Kota Malang.
Baru-baru ini, pelatihan bagi pembatik pemula melibatkan komunitas pemuda, kelompok sindrom down, perwakilan mitra wanita pekerja rumahan Indonesia, tim penggerak PKK, dan masyarakat umum. Tujuannya agar penerima manfaat memiliki keterampilan sehingga berdaya saing dan cepat terserap pasar kerja.






