Tugusatu.com- Sejumlah tokoh nasional bidang lingkungan mengunjungi Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026). Mereka membawa spirit memperkuat jejaring kampung tematik nasional.
“Kunjungan tokoh-tokoh nasional menjadi pengakuan sekaligus penguatan posisi Kampung Budaya Polowijen sebagai ruang belajar bersama, tidak hanya bagi warga dan mahasiswa, tetapi juga bagi jejaring kampung tematik di tingkat nasional,” tegas Penggagas KBP Kota Malang, Isa Wahyudi akrab disapa Ki Demang, Senin (9/2/2026).
Para tokoh yang hadir di antaranya Ir. Bambang Irianto, Oday Kodariyah, Dr. Mokhamad Hariyadi Eko Romadon, Hendro Wibowo, Adi Widodo, serta pengurus Kampung Semar. Mereka merupakan bagian dari Panitia Nasional Jambore Kampung Tematik Indonesia yang direncanakan akan berlangsung di Kota Madiun pada 1 Juni 2026.
Ki Demang menjelaskan model kampung yang berdaya, lestari, dan berkarakter diharapkan lahir dari spirit sinergi antara budaya, lingkungan, dan pendidikan. Dalam konteks ini, sejumlah tokoh nasional mengunjungi KBP guna memperkuat komitmen untuk memajukan kampung tematik secara berkelanjutan.
Selain itu, mereka turut memberi semangat bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 yang tengah mengabdi di kawasan tersebut.
Kunjungan ini, lanjut Ki Demang, merupakan rangkaian agenda nasional dalam rangka mendampingi dan menerima kunjungan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kampung Wonosari Lestari dan Kampung Semar. Usai agenda tersebut, rombongan menyempatkan diri berkunjung ke Kampung Budaya Polowijen sebagai salah satu kampung berbasis budaya yang dinilai konsisten dalam menjaga nilai tradisi, kearifan lokal, dan penguatan komunitas.
Di Kampung Budaya Polowijen, para tokoh nasional lingkungan disambut hangat oleh warga kampung serta mahasiswa KKN Tematik UMM. Mahasiswa memaparkan sejumlah program kerja yang telah dan sedang dilaksanakan, mulai dari pembukaan lahan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) untuk Karang Kitri dan tanaman toga, penataan ulang kawasan KBP, penyelenggaraan kegiatan sinau budaya, digitalisasi arsip dan informasi kampung, aktivasi media sosial KBP, pelestarian adat dan seni tradisi, hingga persiapan penyelenggaraan Festival Kampung Budaya Polowijen.
Ir. Bambang Irianto, penggagas Kampung Glintung Go Green (3G) Malang sekaligus penerima Kalpataru 2018 kategori Pembina Lingkungan, mengapresiasi upaya mahasiswa dan warga KBP dalam mengintegrasikan budaya dengan isu lingkungan. Menurutnya, keberlanjutan kampung tematik akan kuat jika bertumpu pada kesadaran warga dan partisipasi generasi muda.
Oday Kodariyah atau yang akrab disapa Mamah Oday, pelestari tanaman obat tradisional asal Pasirjambu, Bandung, juga menyampaikan kekagumannya terhadap atmosfer Kampung Budaya Polowijen, khususnya Pawon KBP. Peraih Kalpataru 2018 dan Kalpataru Lestari 2025 ini menilai pawon bukan sekadar ruang memasak, melainkan ruang kultural yang sarat makna.
“Dalam falsafah Sunda, pawon adalah ruang intim keluarga. Kami diterima di pawon, artinya diterima sebagai keluarga. Di sinilah tradisi hidup, dari makanan, minuman, sampai percakapan nilai-nilai kehidupan,” ujarnya.
Untuk itu, ia mendorong mahasiswa memaksimalkan potensi pawon sebagai pusat pelestarian tradisi Nusantara.
Sementara itu, Rektor Universitas Lumajang, Dr. Mokhamad Hariyadi Eko Romadon, sekaligus penggerak Kampung Karamba di Kabupaten Lumajang, memberikan motivasi khusus kepada mahasiswa KKN Tematik UMM. Ia menekankan pentingnya karya yang berdampak dalam pengabdian masyarakat.
“KKN bukan sekadar hadir, tetapi meninggalkan jejak karya. Mahasiswa harus mampu memberi warna, perbaikan lingkungan, dan penguatan komunitas. Apalagi KKN di Kampung Budaya Polowijen yang kental tradisi dan nilai etniknya. Menurut saya, ini KKN yang paling berbeda, paling unik, dan bernilai,” ungkapnya.
Hendro Wibowo, penggerak Kampung Darling (Sadar Lingkungan) dari Ciledug, Kota Tangerang, turut mengapresiasi langkah KBP dan mahasiswa KKN dalam mengintegrasikan budaya, lingkungan, dan ekonomi warga. Pengalamannya mengelola bank sampah berbasis komunitas menjadi inspirasi bahwa kampung tematik dapat tumbuh kuat jika dikelola secara kolektif dan berkelanjutan.
Sumber: Kampung Budaya Polowijen Malang






