Kasus Campak Meningkat di 16 Puskesmas Kota Malang

Kepala Dinkes Kota Malang Husnul Muarif. Foto: Tugusatu/Bagus Suryo
Kepala Dinkes Kota Malang Husnul Muarif. Foto: Tugusatu/Bagus Suryo

Tugusatu.com- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Jawa Timur, menemukan sekitar 100 kasus suspek campak tersebar di 16 puskesmas. Kenaikan kasus campak pada anak itu menjadi alarm serius bagi otoritas kesehatan setempat.

Sesuai data profil kesehatan Kota Malang tahun 2024, kasus campak di Kota Malang periode 2022-2024 terus meningkat sebanyak 48 kasus pada tahun 2022 dan meningkat cukup signifikan pada tahun 2023 menjadi 107 kasus dan 125 kasus pada tahun 2024. Kini, suspek campak ada 100 orang sampai Maret 2026.

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif mengatakan seluruh temuan masih dalam tahap verifikasi. Sampel dari kasus suspek telah dikirim ke laboratorium pusat untuk memastikan diagnosis.

Lonjakan ini mendorong Dinkes menetapkan status siaga. Fasilitas layanan kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan, sementara tenaga kesehatan diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) di puskesmas, rumah sakit, hingga laboratorium kesehatan daerah. Langkah ini menegaskan potensi penularan yang tidak bisa dianggap sepele.

Namun, respons teknis saja dinilai belum cukup. Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, mengingatkan pentingnya memperkuat edukasi publik, khususnya terkait imunisasi sebagai benteng utama pencegahan campak.

Ia menyoroti masih adanya celah pemahaman di masyarakat terkait penyakit menular dan urgensi vaksinasi sejak dini. Kondisi ini berpotensi memperlambat upaya pengendalian jika tidak segera diatasi dengan pendekatan yang lebih efektif.

“Jika satu strategi tidak berhasil, harus dicari cara lain agar edukasi benar-benar diterima masyarakat,” tegasnya.

Situasi ini menempatkan Pemkot Malang untuk mengendalikan potensi penyebaran sekaligus membenahi komunikasi publik. Tanpa penguatan edukasi dan peningkatan cakupan imunisasi, status siaga berisiko hanya menjadi langkah reaktif, bukan solusi jangka panjang.

Saat ini, pemantauan terus dilakukan sembari menyiapkan langkah antisipatif untuk mencegah penyebaran lebih luas.

ISSN 3063-2145
Penulis: Maghfirotul HasanahEditor: Ahmad Yakub