Dosen FK UB Tekankan Skrining Virus Nipah di Bandara dan Terminal

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD. Foto: Humas Universitas Brawijaya
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD. Foto: Humas Universitas Brawijaya

Tugusatu.com- Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD, menyatakan deteksi dini ancaman virus Nipah harus mulai diterapkan. Pasalnya, dampak virus itu memiliki angka kematian relatif tinggi ketimbang infeksi virus lainnya.

Ia menjelaskan langkah skrining harus diperkuat guna membatasi mobilitas khususnya pada individu dengan risiko tinggi. Sebab pengalaman pandemi Covid-19 memberikan pelajaran tentang pentingnya deteksi dini.

“Skrining di bandara dan terminal harus dilakukan secara ketat agar virus yang belum ada di Indonesia ini tidak masuk melalui perjalanan internasional,” tegas dr. Milanitalia Gadys Rosandy, kemarin.

Selanjutnya, fasilitas kesehatan disiapkan terutama ruang isolasi khusus untuk menangani penyakit infeksi emerging tanpa perlu menunggu wabah besar terjadi.

“Jangan sampai kita kembali menghadapi situasi pandemi seperti COVID-19,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar terkait virus Nipah dan tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan. Dalam konteks ini, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya memiliki peran krusial dalam meningkatkan kesadaran publik.

Di sisi lain, ia mengimbau masyarakat tetap waspada, akan tetapi tidak panik dalam menyikapi isu virus Nipah.

“Waspada bukan berarti takut berlebihan. Masyarakat cukup menerapkan protokol kesehatan, menggunakan masker di area berisiko, rajin mencuci tangan, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala,” ujarnya.

Virus Nipah menebar potensi ancaman kendati belum ada kasus di Indonesia. Virus itu sangat berbahaya sebagai penyakit infeksi emerging dengan tingkat fatalitas tinggi dan dampak serius terhadap kesehatan manusia.

Virus mampu menyerang organ-organ vital dalam tubuh manusia. Infeksi virus ini dapat menembus sistem saraf pusat dan menyebabkan peradangan otak atau ensefalitis.

“Virus ini dapat berkembang sangat cepat, mulai dari demam tinggi, penurunan kesadaran, hingga pasien mengalami koma,” jelasnya

Selain menyerang sistem saraf, virus Nipah juga dapat menimbulkan peradangan hebat pada paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gagal napas akut yang berujung pada meningkatnya risiko kematian pasien.

Menurut dr. Milanitalia, kombinasi gangguan pada otak dan paru inilah yang membuat virus Nipah memiliki angka kematian yang relatif tinggi dibandingkan infeksi virus lainnya.

Dalam praktik klinis sehari-hari, dr. Milanitalia mengungkapkan tantangan utama dalam mendeteksi virus Nipah adalah kemiripan gejala awalnya dengan penyakit infeksi lain. Oleh karena itu, dokter perlu memiliki kewaspadaan tinggi terhadap tanda-tanda klinis tertentu.

“Gejala yang perlu menjadi alarm antara lain demam tinggi yang tidak membaik, sesak napas, penurunan kesadaran, serta kejang. Perubahan kondisi yang cepat harus segera dicurigai sebagai infeksi yang lebih serius,” ucapnya.

Ia menambahkan virus Nipah dapat menyerang berbagai kelompok usia, namun risiko lebih tinggi terjadi pada kelompok rentan. Lansia, anak-anak, serta individu dengan kondisi imunitas rendah atau immunocompromised menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Apabila kelompok tersebut terinfeksi, dampak klinis yang muncul dapat lebih berat dan progresif.

Terkait penanganan pasien, dr. Milanitalia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun terapi khusus untuk virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat suportif dan simptomatik.

“Pasien dengan demam diberikan obat penurun panas, pasien dengan sesak napas diberikan oksigen. Jika terdapat kecurigaan virus Nipah, pasien harus dirawat di ruang isolasi dan dipisahkan dari pasien lain,” imbuhnya.

Selain itu, tenaga medis diwajibkan menerapkan protokol pengendalian infeksi secara ketat, mulai dari penggunaan alat pelindung diri, mencuci tangan dengan benar, hingga penerapan standar isolasi yang sesuai. Menurutnya, kesiapan tenaga kesehatan menjadi faktor kunci dalam mencegah penularan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Sumber: Humas Universitas Brawijaya

ISSN 3063-2145
Editor: Bagus Suryo