Inovasi SmartGerdX Deteksi Dini GERD Berbasis Digital

Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen dan peneliti di Universitas Brawijaya Dr. dr. Syifa Mustika Sp.PD., K-GEH saat menerima penghargaan. Foto: Dok. Humas Universitas Brawijaya
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen dan peneliti di Universitas Brawijaya Dr. dr. Syifa Mustika Sp.PD., K-GEH saat menerima penghargaan. Foto: Dok. Humas Universitas Brawijaya

Tugusatu.com- Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, meluncurkan SmartGerdX guna mendeteksi dini Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Inovasi platform digital itu lengkap dengan panduan penanganan secara preventif sehingga bermanfaat bagi masyarakat.

“SmartGerdX adalah website inovasi kesehatan terkait GERD yang bertujuan membantu masyarakat awam dalam memahami GERD, karena masih banyak orang yang mengklaim dirinya mengalami GERD tanpa dasar yang jelas,” tegas Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen dan peneliti di Universitas Brawijaya Dr. dr. Syifa Mustika Sp.PD., K-GEH.

Masyarakat bisa mengetahui secara cepat gejala melalui kuesioner GERD-Q yang telah teruji secara klinis. Pengguna bisa mengisi enam pertanyaan yang kemudian akan keluar skor. Setelah itu, sistem akan menampilkan rekomendasi terkait penggunaan obat serta modifikasi gaya hidup berdasarkan skor yang diperoleh.

Dr. Syifa membuat inovasi platform digital ini mengingat masih banyak masyarakat yang merasa dirinya menderita GERD kendati tanpa dasar pemeriksaan secara jelas. Umumnya, mereka hanya berdasarkan informasi yang tidak terverifikasi atau kesamaan gejala. Karena itu, inovasi ini hadir agar masyarakat tidak termakan hoaks terkait GERD.

“Sebagai praktisi di bidang gastro, sering pasien datang ke saya dan mengatakan bahwa dirinya GERD, padahal belum dilakukan pemeriksaan dan penilaian,” kata Dr. Syifa

Inovasi ini dapat diakses oleh siapa pun melalui platform SmartGerdX.com, serta telah diaplikasikan kepada 250 masyarakat di Banyuwangi pada Desember 2025. Kinerja ini membuat SmartGerdX dan Dr. Syifa mendapatkan apresiasi langsung dari Pemkab Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani mengatakan bangga atas prestasi putra-putri Banyuwangi yang memperkuat layanan publik.

“SmartGerdX menunjukkan bahwa teknologi dapat membuat layanan kesehatan lebih inklusif, cepat, dan berbasis data. Inilah bentuk kolaborasi yang kami harapkan antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi,” ucap Ipuk.

Inovasi ini sudah dikembangkan sejak 2024 berhasil masuk 117 karya inovasi Business Innovation Center (BIC), Kementerian Riset dan Teknologi. Saat ini, SmartGerdX menjadi ekosistem yang dibangun oleh Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) Universitas Brawijaya, yang memiliki mandat untuk memastikan bahwa riset dosen tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Tetapi bergerak menuju intellectual property protection, incubation, dan downstream application yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.

Kepala Subdirektorat Inovasi dan Transfer Teknologi (PITT) Dias Satria, SE., M.App.Ec., Ph.D menjelaskan kiprah dr. Syifa menjadi contoh nyata praktik research downstreaming.

“Keahlian medis yang dibangun di lingkungan akademik difasilitasi oleh DIKST, kemudian diimplementasikan di daerah yang memiliki kebutuhan nyata. Hasilnya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga model kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah yang operasional dan terukur dampaknya,” ujar Dias.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Universitas Brawijaya, Prof. Unti Ludigdo menyatakan akan terus mendorong agar inovasi dosen tidak berhenti di laboratorium atau jurnal.

“Melalui DIKST, kami membangun clear downstream pathway agar riset benar-benar menjadi solusi nyata. Apa yang dilakukan dr. Syifa di Banyuwangi adalah contoh ideal bagaimana inovasi akademik memberi dampak langsung,” tuturnya.

Sumber: Humas Universitas Brawijaya

ISSN 3063-2145
Editor: Bagus Suryo