Tugusatu.com, MALANG—Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) melakukan terobosan strategis dengan menjadikan mahasiswa sebagai aktor utama dalam ekosistem halal.
Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Elfi Anis Saati, mengatakan industri halal mencakup empat elemen vital yakni barang dan jasa, infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), serta dukungan pemerintah.
“Oleh karena itu, UMM secara serius mengintegrasikan kurikulum halal ke dalam mata kuliah di berbagai prodi, mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syari’ah, hingga Fakultas Hukum,” katanya, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, kompetensi halal kini membuka peluang karier yang sangat luas bagi lulusan UMM, termasuk dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dapur-dapur MBG di seluruh Indonesia tidak hanya membutuhkan ahli gizi untuk menyusun menu, tetapi juga kompetensi penjaminan kehalalan proses produksi.
“Kompetensi ini menjadi nilai tambah yang luar biasa. Alumni kami dari Teknologi Pangan kini banyak dicari karena memiliki keahlian ganda. Contohnya Iffi Amalia, alumni yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM, kini sukses diterima sebagai Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi karena kemampuan sertifikasi halalnya,” ungkapnya.
Dia menjelaskan pua, PS P3 Halal UMM yang merupakan pusat kajian pangan aman halal pertama di Indonesia sejak 2008 telah merancang skema integrasi yang menguntungkan mahasiswa.
Melalui pelatihan Pendamping Proses Produk Halal (P3H), mahasiswa diterjunkan langsung membantu UMKM.
“Mahasiswa kami mendapatkan empat manfaat sekaligus dari program ini. Pertama, kompetensi teknis halal. Kedua, konversi nilai A tanpa perlu ikut UAS jika berhasil meloloskan sertifikat halal UKM. Ketiga, lulus tepat waktu karena laporan pendampingan bisa dijadikan skripsi tanpa riset ulang yang memakan biaya dan keempat, ini menjadi amal jariyah karena membantu UMK mendapatkan sertifikasi gratis,” jelasnya
Dampak program ini sangat nyata di lapangan. Dalam tempo empat minggu, dari 90 mahasiswa yang terlibat, 14 orang telah menuntaskan tugas terstruktur dan sukses mengawal penerbitan sertifikat halal bagi berbagai produk, seperti Minuman Bu Neneng (Sengkaling), Bumbu Pecel Bu Romlah (Singosari), hingga Dimsum Littlebite.
“Mahasiswa adalah agent of change. Dengan bekal ini, mereka tidak hanya siap kerja, tetapi juga menjadi penggerak gaya hidup halal yang inklusif di masyarakat,” ucapnya.






