Basic Cardio Life Support: Bekal Penting Relawan Kelurahan Tangguh dalam Siaga Bencana

Pengabdian Masyarakat Tim Poltekkes Kemenkes Malang kepada Relawan Kelurahan Tangguh, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, Jawa Timur.

Relawan Kelurahan Tangguh, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, Jawa Timur, praktik Basic Cardio Life Support (BCLS) atau Bantuan Hidup Dasar Jantung dan Paru. Foto: Tugusatu/Dok. Pribadi
Relawan Kelurahan Tangguh, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, Jawa Timur, praktik Basic Cardio Life Support (BCLS) atau Bantuan Hidup Dasar Jantung dan Paru. Foto: Tugusatu/Dok. Pribadi

Oleh: Bernadus Rudy Sunindya, Dimas Dwi Yoga Saputra, Ganif Djuwadi, Diniyah Kholidah, Handy Lala

Bencana dapat datang kapan saja tanpa dapat diprediksi secara pasti. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, kebakaran, hingga kecelakaan massal sering kali menimbulkan korban jiwa dalam waktu singkat. Pada kondisi tersebut, kecepatan dan ketepatan pertolongan pertama menjadi faktor yang sangat menentukan keselamatan korban. Salah satu keterampilan penting yang wajib dimiliki oleh relawan penanggulangan bencana adalah kemampuan melakukan Basic Cardio Life Support (BCLS) atau Bantuan Hidup Dasar Jantung dan Paru.

Sebagai bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat, tim dosen dan mahasiswa dari Poltekkes Kemenkes Malang melaksanakan kegiatan pelatihan BCLS kepada Relawan Kelurahan Tangguh, Kelurahan Merjosari di Lembah Karang Duren Kabupaten, Jawa Timur. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan relawan dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan dan bencana di lingkungan masyarakat.

Pelatihan tersebut mendapat sambutan positif dari para relawan karena materi yang diberikan sangat relevan dengan tugas mereka di lapangan. Selama ini relawan SAR sering menjadi pihak pertama yang hadir ketika terjadi kecelakaan maupun bencana sebelum tenaga kesehatan tiba di lokasi. Oleh karena itu, kemampuan memberikan pertolongan awal yang cepat dan benar menjadi sangat penting untuk mencegah kematian maupun kecacatan korban.

Tim pengabdian masyarakat dari Poltekkes Malang menjelaskan bahwa BCLS merupakan kemampuan dasar yang wajib dipahami oleh masyarakat umum, terlebih bagi relawan kebencanaan. Pada kasus henti jantung mendadak, misalnya, korban hanya memiliki waktu beberapa menit untuk mendapatkan pertolongan sebelum terjadi kerusakan otak permanen. Dengan tindakan resusitasi jantung paru yang tepat, peluang hidup korban dapat meningkat secara signifikan.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, serta simulasi penanganan korban bencana. Para peserta diberikan materi mengenai pengenalan henti napas dan henti jantung, cara memeriksa kesadaran korban, teknik membuka jalan napas, bantuan pernapasan, pijat jantung luar (chest compression), hingga teknik evakuasi sederhana pada situasi darurat.

Instruktur dari Poltekkes Malang menggunakan pendekatan pembelajaran aktif sehingga para relawan tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga mempraktikkan langsung keterampilan yang diajarkan. Dengan menggunakan manekin latihan, peserta mempelajari teknik kompresi dada yang benar, meliputi posisi tangan, kedalaman tekanan, serta irama kompresi sesuai standar kegawatdaruratan internasional.

Selain keterampilan teknis, peserta juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya keselamatan penolong saat melakukan evakuasi korban. Dalam situasi bencana, relawan sering menghadapi lingkungan yang berisiko tinggi seperti bangunan runtuh, kebakaran, maupun kondisi medan yang sulit dijangkau. Oleh sebab itu, relawan harus mampu melakukan penilaian situasi sebelum memberikan pertolongan agar tidak menambah jumlah korban.

Relawan Kelurahan Tangguh, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, Jawa Timur, selama ini dikenal aktif membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan kebencanaan. Keberadaan relawan berbasis masyarakat seperti ini menjadi bagian penting dalam sistem ketahanan kesehatan masyarakat di tingkat lokal. Mereka menjadi ujung tombak pertolongan awal sebelum bantuan yang lebih besar datang dari pemerintah maupun instansi terkait.

Dalam kegiatan tersebut, para relawan juga mengikuti simulasi penanganan korban bencana massal. Simulasi dilakukan untuk melatih koordinasi tim, komunikasi lapangan, serta pembagian tugas saat menghadapi situasi darurat. Suasana pelatihan berlangsung antusias karena peserta merasa memperoleh pengalaman baru yang sangat berguna untuk diterapkan secara langsung di masyarakat.

Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan BCLS sangat membantu meningkatkan rasa percaya diri relawan ketika menghadapi korban kegawatdaruratan. Selama ini banyak relawan yang ingin membantu korban, namun merasa takut melakukan kesalahan karena belum memiliki keterampilan yang memadai. Dengan adanya pelatihan ini, mereka menjadi lebih siap dan memahami langkah-langkah pertolongan yang benar.

Tim Poltekkes Malang juga menekankan bahwa keberhasilan penanganan korban bencana tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam memberikan pertolongan awal. Semakin banyak masyarakat yang memahami Bantuan Hidup Dasar, maka semakin besar peluang penyelamatan korban sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Di era meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk, penguatan kapasitas relawan menjadi kebutuhan yang mendesak. Pelatihan seperti ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun budaya kesiapsiagaan di tengah masyarakat. Relawan yang terlatih akan menjadi aset penting dalam menciptakan lingkungan yang tangguh terhadap bencana.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini sekaligus menjadi bentuk sinergi antara institusi pendidikan kesehatan dengan masyarakat. Melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam kegiatan lapangan, ilmu pengetahuan yang dimiliki kampus dapat diterapkan secara nyata untuk membantu masyarakat. Mahasiswa juga memperoleh pengalaman berharga dalam mengembangkan kemampuan komunikasi, edukasi kesehatan, dan kerja sama tim.

Tidak hanya itu, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keterampilan pertolongan pertama. Ke depan, pelatihan serupa diharapkan dapat diperluas kepada kelompok masyarakat lain seperti karang taruna, organisasi kepemudaan, kader kesehatan, hingga lingkungan sekolah.

Pemerintah daerah juga diharapkan terus mendukung penguatan kapasitas relawan kebencanaan melalui program pelatihan berkelanjutan. Dengan dukungan yang baik, relawan masyarakat dapat menjadi mitra strategis dalam menciptakan sistem penanggulangan bencana yang cepat, tanggap, dan efektif.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, Poltekkes Malang menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Pelatihan Basic Cardio Life Support kepada Relawan Kelurahan Tangguh Merjosari bukan hanya sekadar kegiatan edukasi, tetapi merupakan investasi kemanusiaan yang sangat penting dalam membangun masyarakat siaga bencana.

Harapannya, para relawan yang telah mendapatkan pelatihan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diteruskan kepada masyarakat luas sehingga semakin banyak warga yang siap memberikan pertolongan pertama saat terjadi kondisi darurat.

Pada akhirnya, kesiapsiagaan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Dengan pengetahuan, keterampilan, dan semangat gotong royong, masyarakat Indonesia dapat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman bencana di masa mendatang.

Penulis: Bernadus Rudy Sunindya, Dimas Dwi Yoga Saputra, Ganif Djuwadi, Diniyah Kholidah, Handy LalaEditor: Bagus Suryo