Edukasi Keselamatan Sejak Dini: Membangun Budaya K3 Melalui Pembelajaran Alam Terbuka pada Siswa MI Sunan Giri di Wisata Edukasi Keselamatan Karangduren 8, Pakisaji Kabupaten Malang

Siswa Madrasah Ibtidaiah (MI) Sunan Giri, Kabupaten Malang, mengikuti edukasi keselamatan di Wisata Keselamatan Karangduren 8 di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto: Dok. Wisata Keselamatan Karangduren
Siswa Madrasah Ibtidaiah (MI) Sunan Giri, Kabupaten Malang, mengikuti edukasi keselamatan di Wisata Keselamatan Karangduren 8 di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto: Dok. Wisata Keselamatan Karangduren

Oleh: 

Dr. Ganif Djuwadi, SST., S.Pd., M.Kes; Dr. Dyah Wdodo, SKp., MKes; Bernadus Sunindya, MPH; Syamsudin, SKM., M.Ling; Muh Elvis Aldrin, S.Hut

Pendahuluan

Keselamatan merupakan kebutuhan dasar setiap individu dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, pendidikan keselamatan sering kali baru diberikan ketika seseorang memasuki dunia kerja, sementara pengenalan budaya keselamatan sejak usia dini masih relatif terbatas. Padahal, pembentukan perilaku aman akan lebih efektif apabila ditanamkan sejak masa kanak-kanak.

Sebagai upaya membangun budaya keselamatan sejak dini, Wisata Keselamatan Karangduren 8 di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menyelenggarakan kegiatan edukasi keselamatan bagi siswa Madrasah Ibtidaiah (MI) Sunan Giri, Kabupaten Malang. Kegiatan ini diikuti oleh 34 siswa dengan materi utama berupa height safety, fire safety, dan water safety yang dikemas dalam konsep pembelajaran alam terbuka (outdoor learning).

Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias. Namun, materi height safety menjadi aktivitas yang paling diminati dibandingkan materi lainnya.

Keselamatan sebagai Investasi Jangka Panjang

Dalam perspektif Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), tujuan utama keselamatan bukan sekadar mencegah kecelakaan, tetapi membangun budaya keselamatan (safety culture). Budaya keselamatan merupakan seperangkat nilai, sikap, persepsi, dan perilaku yang membuat seseorang secara sadar bertindak aman dalam setiap aktivitas.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja menegaskan pentingnya perlindungan terhadap setiap orang dari berbagai potensi bahaya. Meskipun regulasi tersebut banyak diterapkan di lingkungan kerja, nilai-nilai keselamatan yang terkandung di dalamnya relevan untuk diperkenalkan kepada anak-anak sebagai bekal kehidupan di masa depan.

Demikian pula dalam PP Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), salah satu unsur penting adalah pengembangan kompetensi, pelatihan, dan pembentukan budaya keselamatan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, edukasi keselamatan pada anak usia sekolah dasar dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam membangun masyarakat yang lebih sadar risiko dan lebih peduli terhadap keselamatan.

Mengapa Anak Lebih Tertarik pada Height Safety?

Selama kegiatan berlangsung, terlihat bahwa siswa menunjukkan ketertarikan yang sangat tinggi pada aktivitas height safety. Penggunaan helm keselamatan, harness, tali pengaman, titian tali, serta simulasi aktivitas di ketinggian menjadi daya tarik utama bagi peserta.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori experiential learning yang dikembangkan oleh David Kolb. Teori ini menyatakan bahwa proses belajar akan lebih efektif apabila peserta mengalami langsung apa yang dipelajari. Anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan tentang keselamatan, tetapi juga merasakan sendiri penggunaan alat pelindung diri (APD), mengikuti prosedur keselamatan, dan menghadapi tantangan yang harus diselesaikan.

Selain itu, teori outdoor education menjelaskan bahwa lingkungan alam terbuka mampu meningkatkan motivasi belajar, rasa ingin tahu, keberanian, kemampuan memecahkan masalah, serta kerja sama antarpeserta. Aktivitas height safety menggabungkan unsur petualangan, permainan, tantangan, dan keselamatan sehingga sangat sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia sekolah dasar.

Bagi anak-anak, aktivitas di ketinggian memberikan pengalaman yang unik karena menghadirkan sensasi tantangan yang tidak mereka temui dalam pembelajaran di kelas. Namun karena seluruh kegiatan dilaksanakan dengan pengawasan instruktur dan prosedur keselamatan yang ketat, tantangan tersebut berubah menjadi pengalaman belajar yang aman dan menyenangkan.

Pembelajaran Alam Terbuka sebagai Sarana Pendidikan Keselamatan

Konsep pembelajaran alam terbuka yang diterapkan di Wisata Keselamatan Karangduren 8 memberikan ruang bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata. Anak-anak dapat melihat, menyentuh, mencoba, dan merasakan langsung berbagai aspek keselamatan.

Pada kegiatan height safety, siswa belajar pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD), kepatuhan terhadap instruksi, dan pengendalian risiko.

Pada kegiatan fire safety, siswa diperkenalkan dengan bahaya kebakaran, sumber api, serta tindakan awal yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran.

Sementara pada kegiatan water safety, siswa memahami potensi bahaya di lingkungan perairan dan cara menjaga keselamatan diri ketika berada di dekat sungai maupun kolam.

Melalui pendekatan tersebut, keselamatan tidak lagi dipahami sebagai teori yang abstrak, tetapi menjadi pengalaman nyata yang mudah dipahami oleh anak-anak.

Membangun Budaya Keselamatan Sejak Dini

Pelaksanaan edukasi keselamatan bagi 34 siswa MI di Wisata Keselamatan Karangduren 8 menunjukkan bahwa anak-anak memiliki minat yang tinggi untuk belajar tentang keselamatan apabila materi disampaikan secara menarik, interaktif, dan sesuai dengan dunia mereka.

Ketertarikan yang besar terhadap height safety memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan keselamatan perlu dikemas dalam bentuk pengalaman langsung yang menyenangkan. Ketika anak merasa senang, mereka lebih mudah memahami dan mengingat pesan-pesan keselamatan yang diberikan.

Kegiatan ini juga membuktikan bahwa wisata edukasi dapat menjadi media yang efektif dalam menanamkan budaya keselamatan sejak dini. Anak-anak tidak hanya belajar tentang bahaya, tetapi juga belajar tentang disiplin, tanggung jawab, keberanian, kerja sama, dan kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Penutup

Edukasi keselamatan yang dilaksanakan di Wisata Keselamatan Karangduren 8 Pakisaji, Kabupaten Malang, merupakan langkah nyata dalam membangun budaya K3 sejak usia dini. Melalui pendekatan pembelajaran alam terbuka, siswa memperoleh pengalaman langsung yang memperkuat pemahaman mereka mengenai height safety, fire safety, dan water safety.

Tingginya minat peserta terhadap height safety menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dan aktivitas luar ruang (outdoor learning) mampu meningkatkan efektivitas pendidikan keselamatan pada anak. Oleh karena itu, program serupa perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi yang sadar risiko, berperilaku aman, dan memiliki budaya keselamatan yang kuat di masa depan.

Belajar keselamatan, bermain aman, pulang selamat. Saatnya kini membangun budaya keselamatan sejak dini.

Penulis: Dr. Ganif Djuwadi, SST., S.Pd., M.Kes; Dr. Dyah Wdodo, SKp., MKes; Bernadus Sunindya, MPH; Syamsudin, SKM., M.Ling; Muh Elvis Aldrin, S.HutEditor: Bagus Suryo