Mahasiswa Widya Gama Malang Kuliah ELC Susur Goa Coban Perawan

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widya Gama (UWG) Malang, Jawa Timur, melakukan kuliah experiential learning class (ELC) Hukum Lingkungan. Foto-foto: Dok. UWG
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widya Gama (UWG) Malang, Jawa Timur, melakukan kuliah experiential learning class (ELC) Hukum Lingkungan. Foto-foto: Dok. UWG

Tugusatu.com- Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widya Gama (UWG) Malang, Jawa Timur, melakukan kuliah experiential learning class (ELC) Hukum Lingkungan guna memahami hukum lingkungan melalui pengalaman nyata. Para mahasiswa menyusuri sungai bawah tanah di goa Coban Perawan, Desa Sukodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang.

Mereka meneliti ekosistem bawah laut dan kawasan karst yang kaya akan air dan speleothem, tapi keberadaan bentang alam itu kini terancam oleh ekspansi tambang. Adapun pemandu kuliah, yakni Dosen Fakultas Hukum UWG, Purnawan Dwikora Negara. Selain itu, ada Shohibul Izar sebagai pemandu wisata gua bersertifikat yang diperankan menjadi dosen tamu. Kuliah ini juga diikuti Kepala LPPM, Fachrudin, dan Kepala Pusat Pengembangan kari dan Kewirausahaan UWG, Wiwin Purnomowati.

“Selama ini mindset mahasiswa dinilai hanya memahami fungsi hutan darat sebagai penghasil oksigen dan penyerap karbon,” tegas Dosen Fakultas Hukum UWG, Purnawan Dwikora Negara, Senin (6/7).

Padahal, lanjut Purnawan, ekosistem bawah laut dan kawasan karst nyatanya memegang peran krusial yang sama.

“Karst tidak hanya menyimpan air, tetapi juga menyembunyikan mahakarya speleothem yang terbentuk dari proses batuan karbonat selama ratusan tahun,” ucapnya.

Menurut Purnawan, mahakarya speleothem memadukan air, batu kapur, karbondioksida, dan waktu. Air hujan yang sedikit asam melarutkan batu kapur saat meresap ke dalam tanah. Lalu, tetesan air memasuki gua dan melepaskan karbondioksida. Adapun kalsium karbonat mengendap sedikit demi sedikit hingga membentuk ornamen.

“Proses ini berlangsung sangat lambat, umumnya 0,01-3 mm per tahun, tergantung suhu, kelembapan, kandungan mineral, dan laju tetesan air,” katanya.

Ironisnya, keberadaan bentang alam ini terancam oleh ekspansi tambang. Isu ini pula memicu gugatan besar terkait kepastian regulasi.

“Sejauh mana hukum melindungi kawasan karst, dan bagaimana efektivitas penegakannya di lapangan?,” ujarnya.

Ketua LPPM Universitas Widya Gama Malang, Fachrudin menyerahkan sertifikasi kompetensi pemandu wisata kepada empat warga Desa Sidodadi.
Ketua LPPM Universitas Widya Gama Malang, Fachrudin menyerahkan sertifikasi kompetensi pemandu wisata kepada empat warga Desa Sidodadi.

Sebanyak tujuh mahasiswa kelas karyawan terjun ke lapangan untuk melakukan simulasi, dan mempraktikkan teori secara langsung. Pada kesempatan itu, kuliah juga mengajarkan nilai-nilai Pancasila dan cinta Tanah Air.

Bahkan, akademisi dan mahasiswa UWG memadukan kuliah sejalan dengan pengabdian masyarakat. Berawal dari Program Penguatan Kapasitas (PPK) Ormawa UWG tahun 2023 di Desa Sidodadi telah menginisiasi Ecoeduwisata Susur Sungai Bawah Tanah Coban Perawan. Program itu mempertemukan pihak kampus berkolaborasi dengan Asesor Pemandu Gua berlanjut hingga tahun 2026.

Pada kesempatan itu, Ketua LPPM Universitas Widya Gama Malang, Fachrudin menyerahkan sertifikasi kompetensi pemandu wisata usai empat warga Desa Sidodadi mengikuti sertifikasi sebagai pemandu lokal wisata.

Sumber: Universitas Widya Gama Malang

Editor: Bagus Suryo