Universitas Brawijaya Temukan Celah Sistem UTBK bagi Difabel, Low Vision Perlu Evaluasi

Sejumlah difabel mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Brawijaya. Foto: Dok. Humas UB
Sejumlah difabel mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Brawijaya. Foto: Dok. Humas UB

Tugusatu.com- Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) bagi peserta difabel di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, berjalan lancar dengan dukungan fasilitas inklusif yang telah disiapkan sejak jauh hari.

Namun di balik kelancaran itu, UB menemukan celah dalam sistem seleksi nasional yang dinilai masih perlu dievaluasi, terutama untuk peserta low vision.

Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (SLDPI) UB memastikan seluruh alur mobilitas peserta, mulai akses ruang ujian hingga perangkat pendukung, dirancang ramah difabel. Salah satunya melalui penempatan lokasi ujian di lantai satu untuk memudahkan akses peserta dengan beragam kebutuhan.

Selain itu, panitia juga menyediakan juru bahasa isyarat dan juru ketik untuk membantu peserta tuli memahami alur serta instruksi selama pelaksanaan tes.

Perwakilan SLDPI UB Mahalli, S.Sos., mengatakan seluruh staf dan pengawas telah dibekali pelatihan kesadaran disabilitas agar pelayanan yang diberikan tidak hanya bersifat membantu, tetapi juga menghormati kemandirian peserta.

“Kami memastikan panitia paham cara berinteraksi dengan peserta difabel daksa, netra, atau yang lainnya, tanpa harus memaksakan bantuan jika mereka merasa bisa mandiri,” ujarnya.

Di tengah kesiapan tersebut, Mahalli menilai masih ada persoalan mendasar dalam skema UTBK nasional, terutama bagi peserta low vision yang belum memperoleh akomodasi setara.

Menurut dia, anggapan bahwa hambatan low vision cukup diatasi dengan fitur pembesaran layar justru problematis.

“Teknis ini justru menghambat waktu membaca karena satu kalimat, bahkan satu kata, bisa memenuhi satu layar penuh,” katanya.

Kondisi itu membuat peserta low vision tidak memperoleh penyesuaian durasi maupun bobot soal yang memadai, meski hambatan yang mereka hadapi nyata dalam proses pengerjaan ujian.

Mahalli juga menyoroti belum terakomodasinya kategori disabilitas mental seperti autis dan ADHD, termasuk ragam disabilitas lainnya dalam formulir pendaftaran nasional. Padahal, informasi tersebut penting agar kampus dapat menyiapkan dukungan yang sesuai sejak awal.

Meski demikian, pengalaman peserta difabel di UB tahun ini menunjukkan praktik inklusi yang berjalan cukup baik.

Suasana UTBK

Ahmad Saikun Najib, salah satu peserta disabilitas netra, mengerjakan seluruh soal secara mandiri dengan bantuan perangkat pembaca layar (screen reader) yang mengubah teks soal menjadi suara melalui headset.

“Untuk alat pendukung, kami menggunakan perangkat pembaca layar, sehingga sangat membantu untuk mengerjakan secara mandiri,” tuturnya seusai ujian, Kamis (23/4/2026).

Bagi Ahmad, kemandirian itu tidak hadir begitu saja. Ia mengaku mempersiapkan UTBK lewat belajar mandiri melalui YouTube, meski kerap menemui kendala karena banyak materi visual sulit diakses secara penuh.

“Kadang di YouTube hanya dijelaskan jawabannya C, tapi kami tidak tahu bentuk atau konteks visual soalnya seperti apa. Itu cukup membingungkan,” ucapnya.

Untuk mengatasi hambatan itu, Ahmad memilih belajar bersama teman yang lebih dulu mengikuti UTBK pada tahun sebelumnya.

Pengalaman serupa dirasakan Darrel, peserta netra asal Blitar, yang mengaku fasilitas di lokasi ujian membuatnya bisa lebih fokus mengerjakan soal tanpa bergantung pada bantuan orang lain.

Tahun ini, UB memfasilitasi 12 peserta difabel dalam pelaksanaan UTBK, terdiri dari lima peserta tuli, tiga tunadaksa, dua netra, dan dua low vision, masing-masing dengan kebutuhan dukungan yang berbeda.

Bagi UB, pelaksanaan ini bukan sekadar memastikan ujian berjalan lancar, tetapi juga menjadi ruang evaluasi bahwa akses pendidikan inklusif masih membutuhkan pembenahan di level sistem nasional.

Sumber: Humas Universitas Brawijaya

ISSN 3063-2145
Editor: Bagus Suryo