Universitas Brawijaya Kembangkan Inovasi Sunscreen Anak dari Rambut Jagung, Pengembangan untuk Minuman Herbal

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattleya. Foto: Dok. Humas UB
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattleya. Foto: Dok. Humas UB

Tugusatu.com- Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, kembali menghadirkan inovasi berbasis riset yang menembus tahap hilirisasi industri. Kali ini, melalui Hi-To-Go Sun Protector, sunscreen anak berbahan ekstrak rambut jagung yang dikembangkan menjadi produk perawatan ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi.

Produk tersebut masuk dalam lini BOUMI, merek perawatan diri untuk anak usia 4-14 tahun hasil kolaborasi UB dengan PT Cedefindo di bawah Martha Tilaar Group.

Inovasi ini menjadi terobosan pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk industri berbasis bahan aktif alami.

“Kami ingin mengkaji bahan aktif dari sesuatu yang awalnya dianggap limbah, seperti rambut jagung, agar memberi nilai tambah sekaligus lebih ramah lingkungan,” kata dosen Fakultas Teknologi Pertanian UB Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattleya yang juga penggagas inovasi rambut jagung.

Ia mengatakan riset ini berangkat dari upaya mengoptimalkan bahan yang selama ini dianggap limbah, namun memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan.

Dalam formulanya, Hi-To-Go Sun Protector memadukan ekstrak rambut jagung (zea mays silk extract) dengan bahan alami lain seperti minyak atsiri dan lavandula hybrida oil. Produk ini memiliki SPF 50 PA++ untuk melindungi kulit anak dari paparan sinar UVA dan UVB.

Tak hanya sebagai pelindung kulit, sunscreen ini juga dirancang menjaga kelembapan kulit anak, memberi sensasi nyaman lewat aroma lavender alami, serta aman untuk kulit sensitif. Agar praktis digunakan anak-anak, produk dibuat dalam bentuk spray.

“Produk ini kami rancang agar mudah digunakan, sehingga dibuat dalam bentuk semprot,” tegasnya.

Rosalina, akrab disapa Oca, menuturkan penelitian terhadap bahan aktif lokal untuk perlindungan UV masih terus dikembangkan. Menurut dia, banyak komponen pangan lokal berpotensi menjadi bahan aktif anti-UV, baik sebagai bahan tunggal maupun dikombinasikan dengan material lain untuk meningkatkan efektivitasnya.

“Banyak bahan aktif pangan lokal yang kami kaji punya potensi anti UV dan ke depan bisa dikembangkan lebih luas,” ujarnya.

Saat ini produk tersebut telah masuk produksi massal melalui kerja sama dengan PT Cedefindo. Bahan baku rambut jagung juga melibatkan petani, terutama di Pulau Jawa, sehingga inovasi ini ikut membuka rantai ekonomi baru berbasis limbah pertanian.

“Kami bekerja sama dengan petani untuk memanfaatkan limbah rambut jagung, dan terbuka peluang kolaborasi dengan industri lain yang menghasilkan limbah serupa,” tutur Rosalina.

Adapun salah satu keunggulan produk ini terletak pada efisiensi biaya produksi sekaligus aspek keberlanjutan. Pemanfaatan limbah sebagai bahan utama dinilai mampu menekan biaya dan membuka peluang inovasi berbasis sumber daya lokal.

“Keunggulannya adalah mengangkat bahan yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi,” ucapnya.

UB juga masih mengembangkan potensi lain dari rambut jagung, mulai minuman herbal hingga riset awal terkait potensi antikanker. Namun pengembangan tersebut masih berada pada tahap penelitian lanjutan.

“Kami juga sedang mengkaji kemungkinan pemanfaatan rambut jagung secara langsung, misalnya untuk teh herbal, tetapi masih dalam tahap riset,” imbuhnya.

Melalui inovasi Hi-To-Go Sun Protector dalam lini BOUMI, UB memperkuat hilirisasi hasil riset kampus sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat, lingkungan, dan industri berbasis potensi lokal.

Sumber: REV/Humas UB

ISSN 3063-2145
Editor: Bagus Suryo