Tugusatu.com- DPRD Kota Malang, Jawa Timur, mendorong peningkatan kinerja program 1000 event diharapkan menjadi penggerak ekonomi di tengah efisiensi. Hal itu menjadi salah satu solusi imbas konflik di Timur Tengah yang berpengaruh pada tekanan pasokan energi global.
“Kondisi ekonomi seperti ini semestinya membuka banyak event, itu bisa membuka padat karya. Ekonomi bergerak, UMKM pun tumbuh terutama sektor kuliner,” tegas Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Eko Herdiyanto, kemarin.
Bahkan, ekonomi kreatif (Ekraf) bakal mendongkrak pertumbuhan. Sebab, ekraf memiliki potensi besar meningkatkan daya tarik, apalagi Kota Malang menjadi Kota Kreatif Dunia Unesco Bidang Media Arts, Clean Air For Big Cities Awards, serta Clean Tourist City Standard.
Dalam konteks ini, Pemkot Malang diminta meningkatkan kapasitas pelaku UMKM dari sisi pelatihan dan keterampilan. Termasuk pemasaran maupun permodalan. Semua upaya itu guna meningkatkan kinerja ekonomi yang imbasnya menurunkan pengangguran dan kemiskinan.
Eko mengungkapkan hal itu sejalan dengan rekomendasi DPRD Kota Malang atas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wali Kota Malang Tahun Anggaran 2025. Dewan menyampaikan 20 rekomendasi strategis dalam rapat paripurna, Senin (13/4/2026).
Capaian kinerja
Dewan menyatakan penurunan angka kemiskinan di Kota Malang menjadi 3,85% pada tahun 2025 memang perlu diapresiasi. Namun, Pemkot Malang harus menyikapi secara hati-hati, sebab secara metodologi penurunan persentase tidak serta merta mencerminkan penurunan kerentanan ekonomi. Terutama, adanya kenaikan garis kemiskinan dan masih tingginya jumlah penduduk miskin ekstrem. Kondisi ini dibuktikan dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang masih relatif tinggi.
TPT Kota Malang menurun dari 6,10 persen pada 2024 menjadi 5,69 persen di tahun 2025. Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas rata-rata TPT Provinsi Jawa Timur yang sebesar 3,88 persen.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Suryadi menambahkan program 1000 event sudah dilaksanakan sejak 2025, dan berlanjut 2026 melibatkan seluruh perangkat daerah. Harapannya, program terus berkelanjutan sampai tuntas.
Sejauh ini, program itu bergulir skala lokal dan nasional membuat UMKM dan pelaku seni lebih atraktif. Dampaknya, mendongkrak perekonomian. Pada tahun 2025, kinerja ekonomi Kota Malang tumbuh 5,92 persen dibandingkan 2024 tumbuh sebesar 5,41 persen.
Adapun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku juga mengalami kenaikan yang signifikan. Pada 2025, PDRB Kota Malang tercatat sebesar Rp108.152,82 miliar, meningkat dari Rp100.116,87 miliar pada tahun sebelumnya. Secara peringkat, capaian ini berada di posisi ke-10 di Jawa Timur.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dalam LKPJ 2025 mengungkapkan implementasi visi dan misi, serta Dasa Bakti Unggulan Pemkot Malang telah dirasakan masyarakat. Capaian kinerja terlihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Malang mencapai 85,55 pada 2025. Angka ini meningkat 0,87 poin dibandingkan tahun 2024 sebesar 84,68. Secara komparatif, capaian tersebut menempatkan Kota Malang di posisi kedua tertinggi di Jawa Timur.
Angka kemiskinan pun menurun menjadi 3,85 persen ketimbang 2024 sebesar 3,91 persen. Capaian itu diperkuat dengan indikator ketimpangan pendapatan turut menunjukkan perbaikan. Pasalnya, gini rasio Kota Malang menurun dari 0,42 pada 2024 menjadi 0,37 pada 2025. Angka ini mencerminkan tingkat ketimpangan yang relatif rendah sampai moderat, sekaligus menunjukkan pemerataan ekonomi yang semakin baik.(*)






