BOUMI Berbahan Alami dari Atsiri dan Rambut Jagung Buatan UB Rambah Pasar Sunscreen Anak

Wisatawan mengunjungi Omah Atsiri di Batu Love Garden, Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (17/4). Di tempat itu menjual BOUMI produk kids care berbahan alami buatan universitas Brawijaya. Foto: Tugusatu/Bagus Suryo
Wisatawan mengunjungi Omah Atsiri di Batu Love Garden, Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (17/4). Di tempat itu menjual BOUMI produk kids care berbahan alami buatan universitas Brawijaya. Foto: Tugusatu/Bagus Suryo

Tugusatu.com- Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, meluncurkan BOUMI produk kids care untuk anak usia 4-14 tahun dengan salah satu unggulan berupa sunscreen berbahan dasar rambut jagung dan atsiri. Inovasi itu hadir pada segmen perawatan kulit anak berbasis bahan alami.

Peluncuran produk pada Jumat (17/4) tersebut menjadi langkah krusial UB menjawab kebutuhan pasar atas produk perawatan anak yang lebih aman dan ramah di kulit.

Pada kesempatan itu, BOUMI diklaim sebagai produk kids care alami pertama yang dikembangkan dari riset kampus dengan pendekatan ilmiah.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama UB, Unti Ludigdo, menjelaskan minyak atsiri menjadi tulang punggung formulasi BOUMI. Produk ini dirancang tidak hanya aman, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi anak, mulai dari aroma hingga tekstur.

“BOUMI hadir sebagai satu rangkaian lengkap yang menemani anak sejak pagi hingga kembali ke rumah setelah beraktivitas,” kata Unti Ludigdo.

Pada tahap awal, BOUMI menghadirkan tujuh produk perawatan anak. Mulai dari sampo, sabun mandi, hingga pelindung kulit seperti sunscreen dan body spray antinyamuk.

Seluruhnya diformulasikan dari bahan alami seperti ekstrak tanaman dan minyak atsiri, dengan aroma yang disesuaikan untuk anak-anak.

Kepala Institut Atsiri UB, Warsito, menyoroti potensi besar minyak atsiri Indonesia yang selama ini belum dimanfaatkan optimal. Menurutnya, sebagian besar komoditas atsiri seperti nilam, cengkeh, dan pala masih diekspor dalam bentuk mentah tanpa nilai tambah.

Melalui BOUMI, UB mencoba mengubah pola tersebut dengan memanfaatkan senyawa aktif atsiri tidak hanya sebagai pewangi, tetapi juga memiliki fungsi kesehatan seperti antimikroba, antiinflamasi, dan pelembap.

“Ini bukan sekadar klaim pemasaran, tetapi berbasis data ilmiah dari riset lebih dari 10 tahun terhadap puluhan tanaman atsiri Indonesia,” ungkapnya.

Seluruh produk BOUMI, lanjutnya, telah melalui uji keamanan dan efikasi sebelum diproduksi massal. Dalam proses hilirisasi, UB menggandeng Cedefindo dari Martha Tilaar Group untuk memastikan terpenuhinya standar industri. Soal distribusi produk melibatkan sektor wisata melalui kerja sama dengan Batu Love Garden di Kota Batu.

Dari sisi kesehatan, Kaprodi Kesehatan Kulit UB, Sinta, menegaskan kulit anak memiliki karakteristik berbeda ketimbang orang dewasa. Karena itu, produk BOUMI dirancang khusus dengan pendekatan dermatologi pediatrik.

“Formulasinya pH-balanced, bebas pewangi sintetis keras, dan menggunakan emolien yang mendukung perkembangan skin barrier anak,” jelasnya.

Salah satu inovasi yang paling menonjol adalah sunscreen Hi-To-Go Sun Protector SPF 30+ yang memanfaatkan rambut jagung sebagai bahan aktif. Limbah pertanian yang sebelumnya kurang dimanfaatkan itu kini diolah menjadi bahan bernilai tinggi.

Dosen Teknologi Pertanian UB, Ocha, mengungkapkan rambut jagung mengandung senyawa ferulic acid dan flavonoid yang efektif menyerap sinar ultraviolet.

“Yang selama ini dianggap limbah ternyata memiliki potensi perlindungan bagi kulit,” ujarnya.

Pengembangan BOUMI membuka peluang ekonomi baru. Setiap produk yang terjual turut menciptakan permintaan bahan baku dari petani jagung lokal, sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah komoditas dalam negeri.

Dengan pendekatan riset, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi, BOUMI menjadi contoh baik bagaimana inovasi kampus dapat menjawab kebutuhan pasar sekaligus memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.

ISSN 3063-2145
Penulis: Bagus SuryoEditor: Ahmad Yakub