Tugusatu.com- Akademisi Poltekkes Kemenkes Malang, Jawa Timur, getol mengedukasi siswa tentang keselamatan di Wisata Keselamatan Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Baru-baru ini, edukasi menyentuh siswa Madrasah Ibtidaiah (MI) Sunan Giri daerah setempat.
Kegiatan yang diikuti oleh 34 siswa pada 11 Juni 2026 itu bagian dari pengabdian masyarakat. Adapun materi yang disampaikan, yaitu height safety, fire safety, dan water safety. Materi dikemas dalam konsep pembelajaran alam terbuka (outdoor learning).
Dosen Poltekkes Kemenkes Malang, Ganif Djuwadi menjelaskan pengetahuan keselamatan kerap diberikan ketika seseorang memasuki dunia kerja. Padahal, keselamatan itu bagian dari kebutuhan dasar setiap individu. Mestinya, budaya keselamatan menjadi krusial sejak usia dini.
“Pembentukan perilaku aman akan lebih efektif apabila ditanamkan sejak masa kanak-kanak,” tegas Ganif Djuwadi yang juga dosen teladan Poltekkes Kemenkes Malang.
Pada kesempatan itu, Ganif tak sendiri, melainkan bersama dosen lainnya bersama melakukan pengabdian masyarakat. Mereka yang terlibat aktif di antaranya Dyah Widodo menyampaikan materi luka bakar. Adapun Edi Utomo Putro memberikan materi water safety, dan Dimas Dwi Yoga Saputra menyampaikan pengenalan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) maupun Alat Pemadam Api Tradisional (APAT). Sedangkan Bernadus Sunindya mengajarkan dasar-dasar keselamatan.

Selama kegiatan, para siswa begitu antusias. Mereka belajar dalam suasana yang menyenangkan. Materi height safety menjadi aktivitas yang paling diminati. Siswa belajar menggunakan helm keselamatan, harness, tali pengaman, dan titian tali. Bahkan, simulasi aktivitas di ketinggian menjadi daya tarik utama bagi peserta.
“Kegiatan ini membuktikan bahwa wisata edukasi dapat menjadi media yang efektif dalam menanamkan budaya keselamatan sejak dini. Anak-anak tidak hanya belajar tentang bahaya, tetapi juga belajar tentang disiplin, tanggung jawab, keberanian, kerja sama, dan kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.
Pada kegiatan fire safety, siswa diperkenalkan dengan bahaya kebakaran, sumber api, serta tindakan awal yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran. Saat kegiatan water safety, siswa memahami potensi bahaya di lingkungan perairan dan cara menjaga keselamatan diri ketika berada di dekat sungai maupun kolam.

Para siswa bukan saja menerima teori, tetapi mereka praktik dalam menggunakan berbagai peralatan keselamatan. Penggunaan alat pelindung diri (APD) pun sesuai prosedur dengan didampingi instruktur berkompeten.
Saat itu, anak-anak mendengar penjelasan tentang keselamatan, termasuk merasakan sendiri penggunaan APD, lalu mengikuti prosedur keselamatan, dan menghadapi tantangan yang harus diselesaikan.
Belajar di alam terbuka, lanjut Ganif, dapat meningkatkan motivasi belajar, rasa ingin tahu, keberanian, kemampuan memecahkan masalah, serta kerja sama antarpeserta. Aktivitas height safety menggabungkan unsur petualangan, permainan, tantangan, dan keselamatan sehingga sangat sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia sekolah dasar.
“Anak-anak dapat melihat, menyentuh, mencoba, dan merasakan langsung berbagai aspek keselamatan,” tuturnya.
Menurut Ganif, pencegahan menjadi keutamaan dalam konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sebab, tujuan utama keselamatan bukan sekadar mencegah kecelakaan, melainkan membangun budaya keselamatan (safety culture). Substansi budaya keselamatan merupakan seperangkat nilai, sikap, persepsi, dan perilaku yang membuat seseorang secara sadar bertindak aman dalam setiap aktivitas.
Untuk itu, nilai-nilai keselamatan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja sangat relevan diberikan kepada anak-anak sebagai bekal kehidupan di masa depan.
“Edukasi keselamatan pada anak usia sekolah dasar dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam membangun masyarakat yang lebih sadar risiko dan lebih peduli terhadap keselamatan. PP Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) juga menjadi salah satu unsur penting pengembangan kompetensi, pelatihan, dan pembentukan budaya keselamatan secara berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Kepala MI Sunan Giri, Pakisaji, Kabupaten Malang, Mulyanto mengapresiasi kegiatan yang sangat edukatif bagi siswa.
“Kegiatan ini sangat luar biasa, bisa untuk SD, SMP, dan SMA, apalagi wilayah sangat layak, situasinya menyenangkan. Lokasi sangat memadai. Kedepan bisa menindaklanjuti kegiatan seperti ini lagi,” ucap Mulyanto.






