Tugusatu.com- Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bukanlah ancaman bagi seniman maupun industri kreatif, melainkan sebagai alat pendukung proses berkarya. Termasuk memperluas akses dan peluang ekonomi kreatif di era digital.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan “Glow Innovation Talks” yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) UB, di Gedung Auditorium UB, Rabu (13/5/2026).
“Teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam proses kreatif, sedangkan inti utama sebuah karya seni tetap berasal dari rasa, pengalaman, intuisi, dan hati manusia,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto.
Keberadaan AI, lanjutnya, tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi seniman maupun industri kreatif. Ia mengungkapkan, selama perjalanan kariernya juga memanfaatkan perkembangan teknologi. Contohnya, pada perubahan distribusi musik dari era CD hingga kini berkembang ke platform digital yang memungkinkan karya-karyanya diputar miliaran kali oleh masyarakat di berbagai negara.
“Seniman harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai emosional dalam karya yang dihasilkan,” tegasnya.
Ia berpendapat, perkembangan AI dan teknologi saat ini tidak akan mampu menggantikan peran seniman musik yang sesungguhnya.
“AI atau teknologi tidak punya hati, jadi tetap kekuatan seni terletak pada perasaan dan hati senimannya,” ujar Yovie di hadapan ratusan peserta.
Saat ini, perkembangan teknologi membuat proses produksi musik menjadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Bahkan, AI kini dapat menciptakan lagu lengkap hanya melalui instruksi atau prompt dalam hitungan menit. Meski demikian, ia menilai hasil karya AI tetap memiliki keterbatasan karena tidak mampu menghadirkan emosi layaknya karya manusia.
“Saya pernah mendengarkan lagu karya AI, memang saya akui aransemennya bagus dan presisi, tapi setelah saya putar lima kali saya bosan. Itu karena AI tidak bisa menciptakan rasa terhadap lagu tersebut,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memperhatikan aspek kekayaan intelektual dalam penggunaan AI. Sebab, data yang digunakan dalam sistem AI tetap memiliki hak cipta sehingga penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
Pada kesempatan itu, ia menyinggung sejumlah negara di Eropa yang mulai membahas regulasi terkait karya berbasis AI. Dari karya yang terlalu banyak menggunakan unsur AI disebut memiliki nilai ekonomi yang lebih rendah dan berpotensi tidak diakui sebagai penemuan asli.
Karena itu, ia optimistis karya yang lahir dari kreativitas dan intuisi manusia akan tetap memiliki nilai tinggi di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Tingkatkan riset
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan mengatakan Indonesia saat ini berada di persimpangan penting dalam menghadapi perkembangan teknologi dan bonus demografi.
Menurutnya, tantangan tersebut harus dijawab melalui penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor agar hasil penelitian perguruan tinggi dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kalau Indonesia kita cermati dengan jernih, maka Indonesia ada di persimpangan jalan,” tuturnya.
Ia juga menyoroti tingginya angka ketergantungan penduduk berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang mencapai sekitar 56 persen. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus direspons melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan dunia industri.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Maka harus banyak langkah kolaborasi yang diinisiasi agar apa yang dikerjakan UB dalam menjaga riset dan inovasi benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.
Kegiatan Glow Innovation Talks sendiri merupakan agenda lanjutan dari proses kerja sama antara UB dengan PT Martina Berto Tbk (Marta Tilaar ) dalam pengembangan riset, inovasi, serta hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi.
Inovasi nasional
Direktur Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) UB, Mohammad Iqbal mengatakan kegiatan tersebut menjadi bukti konkret bagaimana kampus dapat membangun kolaborasi dengan industri dalam menciptakan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghasilkan riset dan penelitian, termasuk juga memastikan hasil inovasi tersebut dapat diterapkan dan dimanfaatkan secara luas.
“Agenda ini merupakan bukti konkret tentang bagaimana researcher yang kita miliki bisa berkolaborasi dengan industri sebagai proses inovasi yang kita lahirkan selanjutnya,” ujarnya.
Iqbal menjelaskan kolaborasi antara UB dan industri diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi di bidang wellness dan health solution yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman, termasuk transformasi digital dan perkembangan AI yang semakin cepat.
“Kita membutuhkan peran banyak pihak karena kita tidak bisa bekerja sendiri. Maka kolaborasi harus terus diinisiasi agar inovasi yang lahir dari kampus benar-benar memiliki dampak bagi masyarakat,” imbuhnya.
Selain itu, ia berharap kegiatan Glow Innovation Talks dapat memberikan wawasan dan inspirasi baru bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kreativitas serta inovasi di berbagai bidang.
Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting sebagai generasi muda yang nantinya akan menjadi motor penggerak inovasi nasional.
Iqbal menambahkan DIKST UB akan terus mendorong terciptanya ruang kolaborasi antara akademisi, peneliti, industri, dan masyarakat guna memperkuat ekosistem inovasi di lingkungan kampus.
“DIKST akan terus memotivasi dan mendorong lahirnya inovasi dari UB yang berdampak nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
Sumber: RST/Humas UB






