Tugusatu.com- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Jawa Timur, mulai menerapkan siaga kekeringan seiring potensi musim kemarau yang segera tiba. Masyarakat, terutama di wilayah rawan, diimbau sejak dini melakukan penghematan air untuk mengantisipasi krisis air bersih.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Malang Zainuddin mengatakan, mitigasi kekeringan telah dijalankan melalui pemantauan sumber air dan kondisi lapangan secara berkala, disertai koordinasi lintas sektor berbasis peta kerawanan.
Langkah antisipasi itu juga diperkuat melalui edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan air secara bijak, serta peningkatan kesiapsiagaan distribusi bantuan air bersih jika kondisi darurat terjadi.
“BPBD telah menyiapkan 3 hingga 5 unit armada tangki air, serta menetapkan titik distribusi berdasarkan desa-desa yang masuk kategori rawan sedang sampai tinggi,” ujar Zainuddin, Minggu (26/4/2026).
Meski hingga kini belum ada laporan kekeringan, BPBD tetap menyiagakan personel berikut sarana pendukung. Kesiapsiagaan itu berkaca pada pengalaman musim kemarau tahun lalu ketika distribusi air bersih mencapai 800 hingga 1.200 tangki, setara sekitar 4 juta sampai 6 juta liter air.
Data tersebut, menurut dia, menunjukkan ancaman kekeringan di Kabupaten Malang bukan persoalan musiman yang bisa dipandang ringan, melainkan risiko berulang yang membutuhkan respons preventif lebih kuat.
Karena itu, warga di wilayah rawan diminta mulai menyiapkan cadangan air, menghemat penggunaan air rumah tangga, dan segera melapor jika mulai mengalami kesulitan akses air bersih.
BPBD juga telah memetakan sejumlah desa rawan kekeringan dan krisis air bersih, terutama di kawasan selatan dan barat Kabupaten Malang yang masuk kategori kerawanan tinggi.
Wilayah yang menjadi perhatian utama meliputi Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, Ampelgading, serta sebagian wilayah Ngantang dan Kasembon.
“Daerah-daerah itu secara geografis memiliki keterbatasan sumber air dan sangat dipengaruhi musim kemarau panjang,” katanya.
Selain respons darurat, upaya jangka panjang dinilai penting diperkuat, termasuk konservasi sumber air, penguatan infrastruktur penampungan, dan mitigasi berbasis desa agar ancaman kekeringan tidak terus berulang setiap tahun.






