Gas Metana Picu Kebakaran, DLH Kota Malang Guyur Bakteri di TPA Supiturang

Petugas memilah sampah di TPST Kelurahan Polehan, Kota Malang, beberapa waktu lalu. Sampah dari warga dipilah sesuai jenisnya sebelum masuk TPA Supiturang. Foto : Dok. Tugusatu.com
Petugas memilah sampah di TPST Kelurahan Polehan, Kota Malang, beberapa waktu lalu. Sampah dari warga dipilah sesuai jenisnya sebelum masuk TPA Supiturang. Foto : Dok. Tugusatu.com

Tugusatu.com- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Jawa Timur, mengendalikan metana dari tumpukan sampah yang menggunung di tempat pemrosesan akhir sampah (TPA) Supiturang guna mencegah kebakaran di musim kemarau.

“Sampah disiram bakteri sehingga mengurangi metana,” tegas Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Raymond Gamaliel Hatigoran Matondang, Rabu (8/7).

Raymond menjelaskan tumpukan sampah yang menggunung diguyur bakteri juga bertujuan untuk mengurangi bau yang menyengat di TPA berbasis sanitary landfill tersebut.

Kini, DLH berupaya melakukan pengendalian volume metana lantaran biogasnya belum termanfaatkan untuk sumber energi. Raymond mengungkapkan sempat ada instalasi biogas, tetapi rusak akibat kebakaran di TPA beberapa tahun lalu.

“TPA Supiturang pernah mengalami kebakaran sehingga membuat instalasi perlu biaya cukup besar,” ujarnya.

Saat ini, sampah yang masuk TPA Supiturang sebanyak 500 ton per hari dari total sampah di Kota Malang mencapai 820 ton-860 ton per hari. Timbulan sampah itu trennya meningkat karena pada tahun 2025 hanya 732,14 ton per hari atau 267.230,53 per tahun.

“Yang bisa kita lakukan sekarang hanya mengurangi bau sampah dan mencegah kebakaran,” katanya.

Guna menekan volume sampah yang masuk TPA Supiturang, DLH berupaya mengajukan anggaran di Kemendagri melalui program Local Service Delivery Improvement Program (LSDP). Anggaran untuk membangun Pengelolaan Sampah Terpadu Refuse Derived Fuel (TPST RDF) nanti memproduksi batu bara sintetis.

“Ini baru proses, inginnya Agustus ada kepastian dari Kemendagri,” tuturnya.

Penulis: Bagus SuryoEditor: Ahmad Yakub