Meski Surplus Produksi, Bulog Malang Janji Serap Beras Petani

Kepala Bulog Cabang Malang, M. Nurjuliansyah Rachman (tengah), mengecek stok beras di gudang milik perum tersebut. Istimewa
Kepala Bulog Cabang Malang, M. Nurjuliansyah Rachman (tengah), mengecek stok beras di gudang milik perum tersebut. Istimewa

Meski Surplus Produksi, Bulog Malang Janji Serap Beras Petani

 

Tugusatu.com, MALANG—Perum Bulog Cabang Malang memastikan siap menyerap hasil panen petani yang belum terserap pasar di tengah tren surplus produksi.

Kepala Bulog Cabang Malang M. Nurjuliansyah Rachman, mengatakan peningkatan produksi terjadi baik di level Jawa Timur maupun Malang Raya. Berdasarkan data Angka Tetap BPS 2025, luas panen di Jatim mencapai 1,84 juta hektare dengan produksi 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah itu naik 12,60 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 9,77 juta ton.

Rilis BPS per 4 Mei 2026, potensi produksi padi Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 6,62 juta ton GKG atau meningkat sekitar 5,28 persen dibanding periode sama tahun lalu.

“Peningkatan produksi harus diimbangi keberadaan off taker agar hasil panen petani tetap terserap. Karena itu, Bulog hadir untuk memastikan stabilitas penyerapan beras di tingkat petani. “Bulog siap menyerap beras petani yang belum terserap pasar, tentu dengan syarat kualitas yang sudah ditetapkan seperti kadar air, tingkat patahan, dan HPP GKP Rp 6.500 per kilogram,” ujarnya dikutip Rabu (20/5/2026).

Dia menegaskan, beras wilayah kerja Bulog Malang yang meliputi Malang Raya, Pasuruan, serta daerah sekitar siap diserap  secara maksimal selama musim panen berlangsung.

Hingga pertengahan Mei 2026, Bulog Cabang Malang sudah menyerap sekitar 70 ribu ton beras dari target pengadaan tahun ini sebesar 76 ribu ton. Angka tersebut meningkat sekitar 30 persen dibanding capaian tahun sebelumnya.

Kepala Bulog Cabang Malang, M. Nurjuliansyah Rachman (tengah), mengecek stok beras di gudang milik perum tersebut. Istimewa
Kepala Bulog Cabang Malang, M. Nurjuliansyah Rachman (tengah), mengecek stok beras di gudang milik perum tersebut. Istimewa

Pada 2025 lalu, Bulog Malang bahkan mampu menyerap lebih dari 61 ribu ton beras atau mencapai 106 persen dari target. Capaian itu menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Timur.

Meski begitu, Anung mengakui masih ada sejumlah tantangan di sektor pertanian dan pascapanen. Salah satunya keterbatasan alat modern seperti combine harvester, dryer, hingga fasilitas penggilingan berskala besar.

“Potensi petani dan penggilingan lokal sebenarnya besar. Tapi jumlah alat modern masih terbatas dan kapasitasnya belum besar. Fasilitas pascapanen juga masih minim. Ini yang perlu didorong agar mereka bisa naik kelas,” ujarnya.

Karena itu, Bulog terus menggandeng penggilingan lokal agar mampu berkembang dan meningkatkan kualitas produksi. Keberadaan Bulog bukan sekadar membeli hasil panen, tetapi juga memperkuat ekosistem pangan secara berkelanjutan.

“Kami mengajak petani lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi. Hasil panen sebaiknya juga diinvestasikan untuk alat pertanian modern. Dengan begitu, penyerapan hasil panen bisa lebih optimal dan kualitasnya meningkat,” tandasnya.

ISSN 3063-2145
Penulis: AnamEditor: Tim Redaksi