Tim Layanan Konseling UB Ungkap Pemicu Gangguan Mental Mahasiswa

Pelatihan Peer Counselor sebagai upaya peningkatan kesadaran kesehatan mental mahasiswa di Lantai 8 Gedung Rektorat (UB), Sabtu (11/4/2026). Foto: Dok. Humas Universitas Brawijaya
Pelatihan Peer Counselor sebagai upaya peningkatan kesadaran kesehatan mental mahasiswa di Lantai 8 Gedung Rektorat (UB), Sabtu (11/4/2026). Foto: Dok. Humas Universitas Brawijaya

Tugusatu.com- Tim Layanan Konseling Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, mengungkap bahaya menunda tugas bisa menambah tekanan yang pada gilirannya menimbulkan gangguan mental.

“Prokrastinasi adalah penundaan. Jika tugas selalu dikerjakan mendekati tenggat, tekanan yang muncul dapat memicu gangguan kesehatan mental,” tegas Tim Layanan Konseling UB, Dian Sudiono, M.Psi.

Dian mengungkapkan hal itu dalam pelatihan Peer Counselor sebagai upaya peningkatan kesadaran kesehatan mental mahasiswa di Lantai 8 Gedung Rektorat (UB), Sabtu (11/4/2026).

Menurut Dian, gangguan kesehatan mental muncul bermula dari kecemasan. Para mahasiswa yang kerap mengalami rasa cemas biasanya mereka yang demen menunda tugas. Adapun sumber tekanan mental dari beban akademik, burnout, persoalan keluarga, adaptasi sosial, tekanan ekonomi, kebingungan karier, serta kecenderungan overcommitment dalam organisasi.

Kesehatan mental, lanjutnya, tecermin dari kemampuan seseorang dalam menjalankan fungsi optimal dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengidentifikasi kondisi tersebut, Dian menjelaskan terdapat tiga aspek utama yang dapat diamati.

Pertama, hubungan yang sehat. Individu dengan kesehatan mental yang baik mampu membangun relasi yang beragam dan seimbang, tidak hanya bergantung pada satu pihak. Kesehatan mental adalah kunci dari sebuah hubungan.

“Mental health adalah fondasi dari emosi, pikiran, komunikasi, kemampuan belajar, ketahanan dan self-esteem,” ujarnya.

Kedua, aktivitas yang produktif. Penurunan produktivitas secara signifikan dapat menjadi indikasi adanya masalah psikologis.

Ketiga, kemampuan beradaptasi. Individu yang sehat secara mental mampu menyesuaikan diri di berbagai lingkungan tanpa kehilangan jati diri.

“Jika tiga aspek ini terganggu, maka perlu diwaspadai sebagai indikasi awal dan dapat menjadi bahan eksplorasi dalam sesi konseling,” tuturnya.

Dian menegaskan pentingnya mengenali tanda kapan seseorang perlu mendapatkan bantuan profesional. Di antaranya ketika keluhan berlangsung lebih dari dua minggu, mengganggu aktivitas harian, kehilangan minat terhadap hal yang biasanya disukai, hingga muncul perilaku menyakiti diri atau pikiran untuk mengakhiri hidup.

“Kalau masalah sudah mengganggu hidup, berlangsung lama, dan terlalu berat untuk ditangani oleh teman-teman kalian nanti, maka silakan dirujuk ke profesional,” tambahnya.

Dalam konteks ini, mahasiswa UB dapat mengakses layanan tersebut melalui Layanan Konseling Mahasiswa (LKM) yang tersedia secara gratis di lingkungan kampus.

Salah satu peserta, Cahyaningtiyas Putri Adventina, mengaku pelatihan ini memberinya pemahaman baru tentang cara mengenali dan merespons permasalahan kesehatan mental.

“Melalui kegiatan ini, kami belajar memahami kondisi seseorang dan bagaimana merespons mereka dengan tepat,” ucapnya.

Tias berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar mahasiswa semakin sadar pentingnya kesehatan mental dan mengetahui kemana harus mencari bantuan saat dibutuhkan.

Sumber: DEA/Humas UB

ISSN 3063-2145
Editor: Bagus Suryo