Pemkab Lamongan Petakan Rawan Kekeringan, Petani Didorong Cepat Tanam

Rakor penanganan dampak hidrometeorologi dan potensi bencana musim kemarau Jawa Timur Tahun 2026. Foto: Tugusatu/Ahmad Yakub/ist
Rakor penanganan dampak hidrometeorologi dan potensi bencana musim kemarau Jawa Timur Tahun 2026. Foto: Tugusatu/Ahmad Yakub/ist

Tugusatu.com- Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, memetakan titik-titik rawan kekeringan guna memastikan sawah tetap produktif dan petani tidak merugi.

Pemkab Lamongan bergerak lebih awal meski musim kemarau belum benar-benar tiba. Namun, kewaspadaan sudah dilakukan mengingat puncak kemarau diprediksi pada Agustus-September 2026.

“Beberapa langkah strategis kita siapkan untuk mengantisipasi kegagalan tanaman pangan,” ujar Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Kamis (9/4).

Langkah ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, ancaman kemarau panjang hingga Agustus menjadi sinyal serius, terutama bagi daerah yang selama ini bergantung pada pasokan air irigasi.

Karena itu, seluruh kecamatan di Lamongan diminta turun langsung mengidentifikasi wilayah yang paling rentan terdampak.

Bukan saja sekadar pemetaan, Pemkab juga mendorong percepatan langkah teknis di lapangan. Mulai dari pendataan embung, normalisasi saluran air, hingga penguatan jaringan irigasi menjadi prioritas yang harus segera dikerjakan oleh dinas terkait.

Di sisi lain, ada spirit yang ingin dijaga, yakni menghadapi kemarau tidak boleh menjadi alasan turunnya produksi pangan. Dalam konteks ini, Lamongan justru memilih mempercepat luas tambah tanam (LTT). Pemenuhan target produksi pangan tetap menjadi komitmen bersama demi menjaga ketahanan pangan daerah.

Dalam rangka percepatan LTT tahun 2026, Pemkab Lamongan gencar mengajak petani juga poktan untuk sesegera mungkin melaksanakan tanam padi pada musim tanam kedua (MT2) usai panen dilakukan.

Begitu panen selesai, petani didorong untuk segera kembali menanam, khususnya padi pada MT2. Strategi ini seperti rekam jejak positif tahun 2025, Lamongan mampu melampaui target LTT nasional. Dari target 192.373 hektare, realisasi mencapai 193.786 hektare. Angka itu ditopang oleh luas baku sawah sekitar 95.000 hektare.

Capaian ini berarti intensitas tanam menjadi kunci. Hasilnya pun signifikan. Produksi padi Lamongan menembus 1,33 juta ton, tertinggi di Jawa Timur. Sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Menurut Bupati yang akrab disapa Pak Yes, keberhasilan tersebut bukan semata soal kebijakan, tetapi juga karakter petani daerah setempat.

“Tanamnya tidak sekali saja, tapi berkali-kali. Panen belum selesai, sudah siap tanam lagi. Tidak perlu menunggu besok, tidak perlu memikirkan hujan atau tidak, yang penting berusaha dan yakin,” ujarnya.

Di tengah ancaman kekeringan, optimisme itu menjadi modal utama. Bagi Kabupaten Lamongan, kemarau bukan sekadar musim sulit. Tetapi soal keyakinan dan konsistensi tetap menjaga ketahanan pangan.(*)

ISSN 3063-2145
Penulis: Ahmad YakubEditor: Bagus Suryo