Tugusatu.com- Pemkot Malang, Jawa Timur, mulai memperketat efisiensi energi di tengah tekanan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah. Penghematan bahan bakar minyak (BBM) menjadi fokus utama, adapun aparatur sipil negara (ASN) diminta menyesuaikan pola kerja dan mobilitas.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengatakan kebijakan efisiensi bukan hal baru. Skema Work From Home (WFH), misalnya, sudah pernah diterapkan saat pandemi Covid-19.
“WFH ini bukan hal baru, sebelumnya sudah kita jalankan saat pandemi,” tegas Wahyu, kemarin.
Saat ini, kebijakan efisiensi diperluas. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerapkan WFH setiap Rabu, sementara pemerintah pusat pada Jumat. Di Kota Malang, ASN diimbau bersepeda ke kantor setiap Jumat sebagai langkah konkret menekan konsumsi BBM sekaligus menjaga kesehatan.
Wahyu menegaskan belum akan beralih ke kendaraan listrik untuk operasional dinas. Selain proses pengadaan yang tidak singkat, kendaraan dinas yang ada dinilai masih layak digunakan.
Efisiensi tak hanya menyasar BBM. Seluruh perangkat daerah diminta memangkas biaya operasional, termasuk penggunaan listrik dan air. Meski begitu, pelayanan publik dipastikan tetap berjalan optimal.
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Malang, Subkhan menyatakan anggaran BBM sebenarnya sudah dialokasikan di masing-masing perangkat daerah. Namun, penyesuaian tetap dilakukan sesuai kebutuhan dan seiring potensi kenaikan harga.
“Kita sudah terbiasa dengan efisiensi,” ujarnya.
Dalam penjabaran APBD 2026, belanja bahan bakar dan pelumas di Kota Malang tercatat mencapai Rp19,032 miliar.
Dari sektor pariwisata, Kepala Disporapar Kota Malang, Baihaqi bakal menghitung dampak kebijakan efisiensi terhadap agenda event nasional hingga internasional yang padat pada April hingga Juni 2026.
Langkah penghematan juga dilakukan DPRD Kota Malang. Ketua DPRD, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, memastikan efisiensi menyasar pengurangan perjalanan dinas serta belanja konsumsi.(*)






